Rindu Sang Murabbi, Perjalanan Dakwah KH. Rahmat Abdullah

Rahmat Abdullah telah pergi merengkuh takdir sejarahnya justru ketika dakwah ini sedang memasuki babak baru dengan tantangan-tantangan baru. Menghabiskan seluruh usia produktifnya dalam perjalanan dakwah, Rahmat Abdullah telah meninggalkan ruang kosong yang besar : simbol spiritualisme dakwah kita yang selalu menghadirkan cinta dalam semua kerja dakwah. Para pecinta adalah pemilik ruh yang lembut : lembut seluruh hidupnya, lembut cara perginya. (Anis Matta : Rahmat Abdullah Simbol Spiritualisme Dakwah Kita).

USTADZ Rahmat begitu ia kerap dipanggil murid-muridnya pernah digelari “Syaikh Tarbiyah” (Sang Guru/Pembina) oleh sebuah Majalah Islam Nasional di tahun 2001 ( majalah sabili) itulah momen peringatan 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia yang telah melahirkan komunitas Tarbiyah.

Sekilas Biografi ustadz Rahmat Abdullah, Rahmat Abdullah lahir dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah, sebuah keluarga sederhana yang tinggal di Bilangan Karet Kuningan, Jakarta Selatan. Ia lahir pada tanggal 3 Juli 1953 sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Abdullah kecil hidup dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Pada usia 11 tahun, ia sudah berstatus yatim karena ayahnya telah meninggal.

Pendidikannya berawal dari didikan orang tuanya yang diikuti pendidikan formal di Perguruan Asy Syafi’iyah asuhan KH. Abdullah Syafi’I seorang yang dikaguminya. Di Asy Syafi’iyah Abdullah belajar tentang ushul fiqh, mustalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan disamping tetap belajar ilmu nahwu,sharf dan balaghah.Pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan parra masyaikh (kyai). Dan di Asy Syafi’iyah Abdullah menamatkan sekolah hingga tingkat Aliyah (tingkat menengah) dengan prestasi yang gemilang.

Selepas Aliyah, ia melanjutkan pendidikannya dengan belajar pada beberapa ulama (salah satunya kepada Bakir Said Abduh) sambil menjalankan berbagai aktivitas dakwah dan sosialnya. Di usia 31 Tahun, Abdullah mempersunting seorang muslimah bernama Sumarni. Pernikahannya dilaksanakan pada 17 September 1984. Dari pernikahan itu, pasangan Rahmat Abdullah dan Sumarni dikaruniai 7 orang putra-putri. Shafwatul Fida, Muhammad Thariq Audah, Nusaibatul Hima, Isda Ilahia, Umaimatul Wafa, Majdi HafidzurRahman, dan Hasan Fakhru Akhmadi.

Menurut KH. Kholil Ridwan ketua MUI Pusat walaupun bukan tamatan Timur Tengah Abdullah memiliki ilmu yang lebih mendalam dari mereka yang lulusan Timur Tengah. Salah satu guru Rahmat Abdullah adalah ustadz Baqir Said seorang kyai Betawi yang pernah nyantri di Gontor dan kemudian melanjutkan kuliah di Mesir. Setelah ustadz Said meninggal karena sakit Abdullah lah yang banyak mewarisi buku-buku ustadz Said dan juga dianggap mewarisi keilmuan dan ide-ide perjuangan ideologi ustadz Said.

Ketekunan dan kerjakerasnya telah mengantarkan Rahmat Abdullah menjadi pemuda pembelajar tanpa menyandang gelar. Ia perpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keIslaman klasik dan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang berlabel sang Ustadz. Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budaya juga merupakan bagian dari dirinya. Ia gemar membuat produk-produk seni, seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskah drama.

Oleh karena itulah banyak orang cenderung menjulukinya sebagai seorang “budayawan”. Selain itu aktifitas Rahmat Abdullah pada saat itu bersama anak-anak muda, seniman bahkan preman adalah membentuk wadah seni teater yang sering dipentaskan di lapangan depan masjid Raudhatul Falah belakang Kedutaan Besar Malaysia.

Di tempat ini selain mementaskan teater juga Abdullah sering membawakan syair dan puisi. Ada hal yang menarik pada salah satu pertunjukkan teater pada tahun 1984 dimana saat itu teater drama terbuka dengan judul Perang Yarmurk yang juga turut dimainkan bersama Abdullah Hehamahua dikepung intel karena dianggap subversif terhadap pemerintah berkuasa saat itu rezim Orde Baru. Dan pacsa pementasan Abdullah dipanggil untuk menghadap Kodim.

Pada pertengahan tahun 1980an Rahmat Abdullah mulai bergabung dengan gerakan Islam yang pada saat itu mulai tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama rekan-rekannya Abu Ridho dan Hilmi Aminudin, Rahmat Abdullah mulai merintis gerakan da’wah yang terinspirasi oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir. Di komunitas barunya ini kemudian Rahmat Abdullah lebih banyak berkecimpung dan menghabiskan waktunya.

Dengan bermodalkan sepeda motor tua Honda tahun 1966 atau disebut motor chip, ia masuk kampung keluar kampung, masuk kampus keluar kampus, menyebarkan fikrah (nilai-nilai) Islamiyah yang shahih (benar) dan syamil (sempurna). Dan pemikiran-pemikiran tentang Islam yang disampaikan oleh Rahmat Abdullah dan rekan-rekannya itu ternyata mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan yang kemudian dikenal menjadi komunitas Tarbiyah.

Melihat dan membaca kembali tentang sosok almarhum ustadz Rahmat Abdullah baik kepribadiannya dan peran peran dakwah dan social kemasyarakatannya semasa hidupnya Empower Indonesia Pictures berkolaborasi dengan Warna Pictures memproduksi film dokumenter tentang ustadz Rahmat Abdullah dengan judul “Rindu Sang Murabbi” sebagai upaya untuk mengenang dan menghidupkan kembali spirit dan semangat dakwah dan perjalanan hidup sosok yang penuh inspirasi ini ke dalam bentuk film Biopic Ustadz Rahmat Abdullah. 

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang