Serial Kea, Adi, Dilan, Tera #4


Sudah pukul 13.20, tetapi dosen belum juga tiba. Para mahasiswa di kelas saling mengobrol sehingga suasana menjadi ramai. Sebagian lain asyik dengan gadget atau laptopnya.

Sementara di sebuah bangku, Tera serius berbicara dengan handphone yang ia angkat ke samping telinga.

“Kalo gitu Tera mau berhenti kuliah aja…”

Orang-orang di sekitar yang mendengar kata-kata itu sontak melongok kea rah Tera.

“Makanya mama kesini. Biar tau gimana gak enaknya hidup ngekos. Aku tunggu sampe besok pagi pokoknya.”

Setelah berkata begitu, tak lama Tera menurunkan handphonenya.

“Kamu kok gitu sih ngomong ke orang tua? Sayang lho, uang masuk ke kampus ini kan gak murah,” Kea menegur sahabat barunya itu.

“Iya nih aku lagi galau. Rasanya pengen pindah ke kampus yang lebih deket. Tapi kasian mama sama papa, udah keluar uang banyak supaya aku masuk ke universitas ini. Abis… Jadi anak kos itu menderita banget dah.” Suara Tera menyelinap di antara suara-suara lain di kelas itu.

Keluhannya terdengar oleh Dilan yang duduk di depannya. Dilan membalikkan badan ke belakang dan menyahut, “Hehehe… Kenapa sih Tera? Gw gak gitu-gitu amat deh.”

“Gak enak Dil, bener deh. Gw itu yang terbiasa tiap pulang sekolah nemu makanan enak-enak di rumah. Sekarang harus masak sendiri. Atau kalo males, harus ke warteg. Rasa masakannya standard banget. Belum lagi harus nyuci baju sendiri, setrika sendiri. Mau laundry, sayang duitnya. Kan aku lagi nabung buat beli tablet baru. Kayaknya mending diajak balikan sama mantan deh daripada jadi anak kos.” Tera panjang lebar.

“Jiaaah…. Kayak yang punya mantan aja,” Adi menyeletuk sambil terkekeh.

“Heh… Lu mah anak mama. Gak ngerasain jadi anak kos.” Tera sewot lagi.

“Tapi memang hidup kita ini punya masa-masanya lho… Ya saat ini lah kita belajar hidup mandiri.” Kali ini Kea menimpali.

“Nah… calon ketua keputrian Rohis kampus mau ngasih taushiyah. Waktu dan tempat dipersilakan,” sela Dilan.

“Ah kamu Dil,” Kea jadi malu dan hampir tidak jadi melanjutkan pembicaraannya. “Memang udah waktunya sih kita belajar mandiri. Kita udah gak pake baju putih abu-abu lagi tiap hari. Kita udah jadi anak kuliahan yang harus di-upgrade cara berfikirnya, cara belajarnya, dan cara hidupnya. Menurut aku sih gitu… Nikmatin aja perubahan hidup yang kita jalanin. Yang penting kita harus jadi lebih baik dari episode hidup sebelumnya.” Kea berapi-api.

Sementara itu Adi bengong mendengarnya. “Luar biasa mbak satu ini… Gak nyangka… Rajin nonton acara Mario Teguh tampaknya.”

“Bener lho Di yang dibilang Tera. Jadi anak kuliahan memang udah harus beda dengan anak SMA. Terutama cara belajar. Di kampus tuh gak ada LKS, gak ada buku paket yang dibagiin sama guru. Kita yang harus proaktif mencari buku ke perpustakaan, atau minjem buku ke kakak kelas, atau diskusi belajar kelompok dengan temen.” Dilan angkat bicara.

“Iye bang… iye… Kalian bedua tuh mentang-mentang anak Rohis jadi punya segudang materi buat nasehatin orang.”

“Yah… sori sih kalo gak berkenan. Gw gak maksud menggurui, tapi ngasih saran sebagai temen aja kok.”

“Iya Dilan… Gw bangga kok punya temen kayak lu. Seneng-seneng aja kok gw diceramahin. Sejak temenan sama lu, sholat gw gak bolong-bolong lagi.”

“Kecuali kalo lagi mens ya…” Tera menyahut.

“Heh… Eike lelaki tulen, book,” jawab Adi. “Iya gw setuju banget sama Kea. Hidup kita harus selalu lebih baik dari episode satu ke episode berikutnya. Aaaw… bahasanya gak kuat. Episodeee…” Adi dan Dilan terkekeh. Kea malah cemberut.

“Waktu ku keciiiil hidupku… Amat lah senang. Senang dipangku dipangku dipeluknya…..” Tera tiba-tiba menyanyi.

“Lah, dia nyanyi,” celetuk Adi.

“Waktu ku ngekoooos hidupku…. Amat menderita….”

“Aaah gubrak. Lagunya baperan.” Ujar Adi lagi.

Dosen tiba-tiba datang. Kehadiran bapak berkacamata yang rambutnya sudah memutih itu sukses membuat kelas hening. Adi, Dilan, Kea, dan Tera merapikan duduknya masing-masing.

Masih jaim, kayak anak SMA.

***

.selesai.

Serial Kea, Adi, Dilan, Tera

Penulis:Zico Alviandri
pks.id

Ini nih 8 Pakta Integritas Caleg PKS di Pemilu 2019


PKS menggelar Konsolidasi Nasional untuk memenangkan Pemilu 2019 dengan menghadirkan lebih dari 1.200 peserta dari unsur DPTP, Tim Pemenangan Pemilu Pusat dan Wilayah, Caleg DPR RI PKS se-Indonesia, Kepala daerah asal PKS dan tim pemenangan dari masing-masing daerah pemilihan.

Salah satu agenda dalam konsolidasi nasional adalah penandatangan Delapan Pakta Integritas untuk Calon Anggota DPR RI PKS yang mengutamakan perjuangan visi misi partai, memperjuangkan kepentingan rakyat dan kampanye positif dengan menjauhi ongkos politik yang tinggi.

Berikut bunyi delapan pakta integritas:

Pakta Integritas Calon Anggota DPR RI PKS

Saya sebagai Calon Anggota DPR RI Partai Keadilan Sejahtera, berjanji setia kepada Allah SWT dengan sepenuh hati demi meraih ridha-Nya, untuk menjalankan hal-hal sebagai berikut:

1. Senantiasa menjaga integritas dan kinerja untuk mensejahterakan umat, bangsa dan negara serta menjaga nama baik Partai Keadilan Sejahtera. Dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab saya akan terus menjujung tinggi prinsip, akhlak, serta jati diri kader Partai Keadilan Sejahtera yang bersih, peduli dan profesional.

2. Berpegang teguh kepada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, peraturan Partai Keadilan Sejahtera, serta setia kepada pimpinan Partai, seluruh keputusan dan kebijakannya selama tidak maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

3. Menjalankan visi, misi, falsafah perjuangan dan platform pembangunan Partai Keadilan Sejahtera dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan sungguh-sungguh. Saya akan terus menjalankan dan memperkuat persatuan, harmoni dan toleransi dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk berdasarkan Ajaran Islam, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Mencegah dan menghindarkan diri dari perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme serta pelanggaran hukum lainnya, dan tidak menyalahgunakan jabatan/wewenang yang diamanahkan oleh Partai dan/atau Negara sebagai sarana untuk memperkaya diri dan/atau orang lain.

5. Terus menempa diri agar mampu menjalankan tugas sebagai Calon Anggota DPR RI. Kami menyatakan siap menerima tugas dari rakyat jika diberi amanat oleh rakyat untuk duduk sebagai Anggota DPR RI dan siap menjadi relawan pembangunan sesudah Pemilu.

6. Menjalankan tugas untuk mendengarkan suara rakyat dan siap memperjuangkannya. Saya akan membuka kanal-kanal komunikasi di berbagai sarana yang bisa dihubungi untuk menerima masukan dan perintah dari rakyat untuk perjuangkan melalui Partai Keadilan Sejahtera, maupun relawan pembangunan.

7. Menyelenggarakan Kampanye damai, mendidik, jauh dari hal-hal yang membuat ongkos politik menjadi tinggi dan menjadi sumber korupsi. Kami akan menjadikan kampanye dan Pemilu sebagai wahana pendidikan politik bagi warga masyarakat untuk mewujudkan kematangan berdemokrasi. Tidak menjadikan kampanye dan Pemilu sebagai ajang perpecahan dan disharmoni bagi warga masyarakat.

8. Berjanji jika terpilih akan membentuk Fraksi Partai Keadilan Sejahtera untuk rakyat dan akan berjuang bersama rakyat dan bekerja untuk rakyat bagi semua rakyat. Mengutamakan kepentingan rakyat, selalu melayani rakyat dan akan tetap berada di tengah rakyat dan tidak akan meninggalkan rakyat pemilih. Kantor-kantor Partai dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera akan menjadi tempat rakyat dapat memperoleh solusi permasalahannya.

Pakta Integritas ini mengikat saya, baik sebagai Calon Anggota DPR RI maupun Anggota Partai. Apabila saya tidak memenuhi Pakta Integritas ini maka saya bersedia menerima sanksi apapun yang ditetapkan oleh Partai, dan tidak akan menuntut atas sanksi yang dijatuhkan.

Demikianlah Pakta Integritas ini saya ucapkan dan Allah sebaik-baik Saksi dan Penolong atas apa yang saya ikrarkan.

pks.id

Serial Kea, Adi, Dilan, Tera #3


Sementara itu di belakang bangku Adi dan Dilan, seorang mahasiswi tertelungkup kepalanya di lengan kursi yang berfungsi sebagai pengganti meja tempat menulis.

“Aduuuh… sakiiiit….”

“Tera, kamu kenapa?” tanya mahasiswi di sampingnya. Sigap, tangan mahasiswi itu mengelus-elus punggung gadis yang dipanggilnya Tera.

“Perut aku sakit, Kea.”

“Kamu udah makan siang?” Jam dinding di depan kelas menunjukkan waktu pukul satu siang lewat lima menit.

“Belum. Aku males masak. Belum makan nih dari pagi.”

“Waduh, ngenes amat jadi anak kos... Ya udah kamu ke warteg aja gih. Makan dulu. Gak apa-apa kok telat. Dosennya cuek ini.”

“Gak deh, Kea. Lagi hemat. Bulan ini aku udah tiga kali ngisi kuota internet. Aku juga lagi nabung mau beli tablet baru.”

“Ya Allah Teraaa…. Masak kamu lebih sayang gadget sih daripada badan kamu.”

Kea lantas mengambil sesuatu dari tas nya. Sebungkus roti sobek. Ia sodorkan pada Tera. “Aku ada roti nih. Makan gih. Aku gak punya obat mag.”

Tera bangkit dari telungkupnya, menegakkan badan. Lantas menyambut pemberian Kea.

“Gak apa-apa nih? Makasih ya Kea.”

“Iya sama-sama.” Jawab Kea sambil merapikan jilbab birunya.

Tera membuka bungkus roti tadi, menyobek sepotong, lantas menyuapkan ke mulut.

“Kea, ayuk bareng!” Dengan mulut yang penuh, Tera menyodorkan kembali roti tadi kepada Kea, mengajaknya bersama menikmati roti sobek rasa coklat.

“Aku shoum. Gak apa-apa kamu aja,” jawab Kea.

“Lah… Ini buat buka dong?” Tanya Tera ke arah Kea yang kepalanya mengangguk meng-iya-kan. Lantas Tera merobek satu potongan lagi. “Makasih banyak ya Kea. Kamu sholehah banget deh.”

“Bayar!” Suara Adi yang duduk di depannya.

“Apa sih lu Di, nyamber aja.” Tera sewot.

“Jangan sewot, neng. Abang punya aqua gelas nih. Belum dibuka. Baek-baek sama abang!”

*****

bersambung ...

Serial Kea, Adi, Dilan, Tera

Penulis:Zico Alviandri
pks.id

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang