Menakar Akar Peradaban

“dengan sendiri mungkin kita dapat berlari cepat. Tapi... bagi siapapun yang ingin melangkah jauh, ia haruslah melangkah bersama!”

Berbicara masalah peradaban, maka tak lepas dari membicarakan dua poin penting yaitu 1) subjek peradaban 2) objek peradaban. Subjek peradaban tak lepas dari yang namanya peran orang/actor peradaban itu sendiri yang posisinya berarti sebagai orang yang beradab. Lalu yang kedua yaitu objek peradaban, objek peradaban tak lepas dari peristiwa apa yang menjadi momentum untuk dijadikan objek dari bangsa yang beradab. Peradaban berasal dari kata dasar ‘adab’ yang artinya berbudi pekerti alus dan luhur. Maka ketika cita kita adalah menciptakan peradaban baru, yang berarti kita harus siap untuk menyiapkan generasi-generasi baru yang berbudi pekerti luhur.

Menjadi generasi beradab adalah keniscayaan, apalagi berkaca dari sejarah peradaban Islam di muka bumi. Maka, right! Yang kita temukan adalah kisah kegemilangan mereka dalam memenangkan peradaban sebelum akhirnya ghazwul fikr muncul dan mementahkan semua. Ternyata, tak satupun kisah kegemilangan mereka (aktor-aktor peradaban) terulang tanpa sebab yang berbeda. Apa yang menjadikan mereka kuat dan menang dahulu juga menjadi alasan yang sama untuk mereka kuat dan menang di masa kini. Ga percaya? Buka lagi deh buku sirah nabawi dan sejarahnya :) Itulah kenapa kita harus belajar sejarah supaya kita tidak menjadi orang yang gagal pertama lalu kedua kali, ketiga kali, keempat, kelima dst. Tapi kita ada untuk menjadi pemenang untuk menang tak hanya sekali tapi memenangkannya berkali-kali! 

‘Menakar akar peradaban’ adalah aktivitas kerja. Aktivitas untuk mengurai benang kusut dalam peradaban yang kini banyak diwarnai oleh jargon-jargon sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme (sepilis). Menakarnya berarti mengukur sejauh mana racikan tersebut telah kita buat, apakah sesuai dosis dan tepat? Menakarnya, berarti mengukur seberapa kebertancapan itu bisa menjadi besar. Mengurai akar peradaban, akarnya peradaban ada pada actor peradaban itu sendiri. Akar harus hidup , akar yang hidup adalah indicator jiwa actor peradaban yang hidup. Maka menakar juga perlu membuatnya untuk tetap hidup. Menghidupkannya adalah memenangkannya. Sejatinya, jiwa mereka adalah jiwa-jiwa pemenang, watak mereka adalah pemenang, ucapan mereka adalah ucapan para pemenang, kebiasaan mereka adalah kebiasaan pemenang, amalan mereka-adalah amalan para pemenang, dan takdir mereka hanya satu yaitu menjadi pemenang!

Jadi kawanku sekalian, konklusi yang tepat untuk tema ini adalah jiwa yang hidup merupakan akarnya peradaban. Maka mencabut akar berarti mencabut visi peradaban, mencabut takdirnya sebagai pemenang! Mengikisnya; berarti sama dengan menghancurkannya, menggerogotinya; sama saja dengan menumbangkan cita-cita peradabannya. Amalan yaumi kita adalah nutrisi penguat yang menjadikan kita menang, seperti halnya yang telah dilakukan umat zaman dahulu. Seringkali kita menjadi lupa bahwa syahadat adalah akar pondasi dari kejayaan itu sendiri, sebelum kita menegakkan tiangya berupa empat yang lain yaitu; shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu. Bagaimana mungkin tiang dapat berdiri tanpa akar pondasi yang kuat? Ketika syahadat adalah visi ideologis kita maka keempat pilar tadi adalah misi pengejawantahannya.

Mengutip dari Hamas (2016) bahwa ‘bumi ini sebenarnya hanyalah tanah yang sama untuk menampung setiap peristiwa yang berulang’, memang benar. Lihat saja sejarah yang sempat terjadi dahulu dari mulai kisah Bani Israil yang dilaknat karena menjadi bangsa yang pembangkang, kisah kaum Luth, kisah Nabi Adam, Ibrahim, penjajahan terhadap umat Islam. Yang kini pun seolah hendak mengingatkan kita pada kasus-kasus LGBT, penjajahan Palestina, penyiksaan umat Islam diberbagai Negara, atau yang menawan adalah kisah kegemilangan Turki yang membuktikan kebangkitannya pada dunia, semua itu kembali mengarahkan kita untuk membuka alqur’an kisah-kisah disana ada agar kita ‘berpikir’ dan ‘mengambil pelajaran!’

Ada siklus yang harus kita jalani untuk menuju peradaban yang sempat timbul lalu kini tenggelam. Seperti alquran mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang SIKLUSIAL. Hidup seperti cara hidup para actor-aktor peradaban. Mengikuti siklus perubahan untuk kejayaan peradaban.

Saya pun bukan orang ‘nasionalis-nasionalis banget’, tapi kita sekarang hidup di Indonesia dan siapappun kita, kita berhak mencinta dan merawat Indonesia dengan sebaik-baiknya. Kejayaan adalah sebuah keniscayaan, minimal kita bisa ciptakan perubahan mulai dari diri pribadi, kawan, keluarga, lingkungan, masyarakat lalu hingga muncul keberanian menyusun narasi besar untuk Indonesia. Maka, agar itu semua tidak sekadar fiksi belaka, untuk negeri sebesar dan semelimpah Indonesia, kita butuh mimpi yang besar yang jaraknya mungkin masih jauh bermil-mil kedepan. Saya mengutip perkataan ustadz Fahri bahwa ‘dengan sendiri mungkin kita dapat berlari cepat. Tapi... bagi siapapun yang ingin melangkah jauh, ia haruslah melangkah bersama!' So, karena bermimpi tidak enak jika seorang diri maka ayo rangkai mimpi itu bersama-sama. Merangkai mimpi yang sama untuk menakar visi peradaban yang lebih baik. 
Ditulis oleh: Iis. S | Mahasiswi Semester akhir FE Unej

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang