Abu Thalhah Al-Anshari dikenal sebagai sahabat Rasulullah SAW yang kaya dan memiliki banyak kebun. Namun, bukan kekayaannya yang membuat namanya dikenang. Keislaman, kedermawanan, kepekaan terhadap sesama, dan keteguhannya berjuang hingga usia senja menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Harta dapat menjadi ukuran kemuliaan di mata manusia. Namun, dalam perjalanan Abu Thalhah Al-Anshari, nilai kehidupan justru berubah ketika keimanan hadir sebagai sesuatu yang jauh lebih berharga daripada emas, perak, ataupun kebun yang luas.
Abu Thalhah merupakan salah satu sahabat dari kalangan Anshar. Sebelum memeluk Islam, ia dikenal sebagai seorang yang berkecukupan. Ia memiliki emas, perak, serta sejumlah kebun yang bernilai tinggi.
Salah satu episode penting dalam kehidupannya bermula ketika Abu Thalhah hendak mempersunting Ummu Sulaim, seorang Muslimah dari Madinah.
Ummu Sulaim tidak memandang rendah Abu Thalhah. Sebaliknya, ia mengakui kedudukan dan kemuliaannya. Namun, ada satu perkara mendasar yang membuat lamaran tersebut tidak dapat langsung diterima: Abu Thalhah ketika itu belum memeluk Islam.
“Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas ditolak. Akan tetapi, engkau masih belum beriman, sedangkan aku adalah seorang Muslimah,” demikian inti jawaban Ummu Sulaim sebagaimana dikisahkan dalam riwayat tentang keduanya.
Abu Thalhah semula mengira penolakan tersebut berkaitan dengan persoalan harta. Ia pun menawarkan emas dan perak sebagai mahar.
Namun, Ummu Sulaim tidak menginginkannya.
Ia justru menyampaikan satu permintaan yang kelak menjadi titik balik kehidupan Abu Thalhah.
Keislaman Abu Thalhah menjadi mahar yang dimintanya.
Ummu Sulaim tidak meminta emas. Tidak pula perak ataupun harta lainnya. Jika Abu Thalhah bersedia memeluk Islam, itulah mahar yang diterimanya.
Abu Thalhah kemudian bertanya bagaimana dirinya dapat masuk Islam. Ia pun diarahkan menemui Rasulullah SAW.
Ketika akhirnya datang menemui Nabi Muhammad SAW dan menyampaikan maksud kedatangannya, Abu Thalhah kemudian mengikrarkan keislamannya.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu kisah yang sering dikenang dalam sejarah Islam. Sebuah pernikahan tidak bermula dari kemegahan mahar, melainkan dari perubahan keyakinan yang kemudian membentuk perjalanan hidup seorang sahabat Rasulullah.
Peka Ketika Rasulullah Lapar
Keislaman Abu Thalhah tidak berhenti pada ucapan syahadat. Setelah memeluk Islam, ia menunjukkan kesungguhan dan loyalitas yang kuat kepada Rasulullah SAW.
Salah satu karakter yang menonjol pada dirinya adalah kepekaan terhadap kondisi orang lain.
Suatu ketika, Abu Thalhah mendengar suara Rasulullah SAW terdengar lebih lemah daripada biasanya. Dari perubahan suara tersebut, ia menangkap bahwa Nabi sedang menahan lapar.
Abu Thalhah kemudian pulang dan bertanya kepada istrinya mengenai makanan yang tersedia.
Di rumah hanya ada sedikit bahan makanan berupa adonan roti. Jumlah tersebut sejatinya hanya cukup untuk beberapa orang.
Abu Thalhah kemudian meminta Anas bin Malik menemui Rasulullah SAW dan mengundang beliau datang untuk makan.
Namun, sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Rasulullah tidak datang seorang diri. Beliau mengajak orang-orang yang berada bersamanya untuk turut menuju rumah Abu Thalhah. Jumlah mereka dalam kisah tersebut disebut mencapai sekitar 70 orang.
Mendengar begitu banyak orang akan datang, Abu Thalhah menjadi khawatir. Bagaimana mungkin makanan yang hanya cukup untuk beberapa orang dapat diberikan kepada puluhan tamu?
Ummu Sulaim merespons kekhawatiran itu dengan ketenangan.
Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
Setelah tiba, Rasulullah SAW mengambil makanan tersebut, memecah-mecahkannya, kemudian memanjatkan doa memohon keberkahan.
Para tamu lalu dipersilakan masuk secara bergiliran, sekitar 10 orang dalam setiap kelompok.
Atas izin Allah, makanan yang semula sangat sedikit itu disebut cukup untuk seluruh tamu hingga mereka kenyang.
Kisah tersebut menjadi gambaran tentang barakah, sebuah konsep penting dalam Islam yang tidak selalu dapat diukur hanya dengan angka.
Keberkahan tidak selalu berarti memiliki harta dalam jumlah besar. Keberkahan dapat hadir ketika penghasilan yang terbatas mampu mencukupi kebutuhan, keluarga diberikan kesehatan, seseorang terhindar dari utang yang memberatkan, serta rumah tangga dianugerahi ketenteraman.
Karena itu, seorang Muslim tidak hanya berdoa agar mendapatkan rezeki yang banyak, tetapi juga agar setiap rezeki yang diterimanya diberkahi Allah SWT.
Memberikan Harta yang Paling Dicintai
Kecintaan Abu Thalhah kepada Allah juga tampak dari caranya merespons ayat Alquran.
Ketika turun firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 92 tentang keutamaan menginfakkan harta yang dicintai, Abu Thalhah tidak hanya mendengarnya.
Ia langsung mengambil tindakan.
Allah SWT berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Ayat tersebut mengetuk hati Abu Thalhah.
Ia lalu mendatangi Rasulullah SAW dan menyampaikan bahwa harta yang paling dicintainya adalah sebuah kebun bernama Bairuha.
Kebun itu bukan aset biasa. Bairuha merupakan salah satu kebun terbaik milik Abu Thalhah dan berada di kawasan dekat Masjid Nabawi.
Nilainya pun tinggi.
Namun, justru harta itulah yang ingin ia serahkan di jalan Allah.
Abu Thalhah tidak memilih harta yang sudah tidak digunakan. Ia tidak memberikan sesuatu yang nilainya kecil bagi dirinya.
Ia memberikan apa yang paling dicintainya.
Rasulullah SAW menyambut niat tersebut dan menyarankan agar kebun itu dibagikan kepada keluarga serta kerabat dekat Abu Thalhah.
Kisah Bairuha menjadi pengingat bahwa sedekah dalam Islam bukan hanya persoalan seberapa besar nominal yang diberikan.
Ada pengorbanan di dalamnya.
Ada pula ujian tentang sejauh mana seseorang bersedia mendahulukan keridhaan Allah dibandingkan kecintaannya kepada harta.
Usia Tak Menghentikan Perjuangan
Keteguhan Abu Thalhah juga tidak berhenti ketika tubuhnya menua.
Pada usia lanjut, ia mendengar ayat Alquran yang memerintahkan kaum Muslimin untuk berangkat berjuang dalam keadaan ringan maupun berat.
Ayat tersebut kembali menggugah hatinya.
Abu Thalhah lalu meminta anak-anaknya mempersiapkan perlengkapan untuk berangkat.
Anak-anaknya berusaha mencegah. Mereka mengingatkan bahwa sang ayah telah berjuang bersama Rasulullah SAW dan terus memberikan pengabdian pada masa setelahnya.
Menurut mereka, sudah saatnya Abu Thalhah beristirahat.
Namun, Abu Thalhah memiliki pandangan berbeda.
Selama panggilan itu masih ia pahami sebagai kewajiban dan selama tubuhnya masih dapat bergerak, ia ingin tetap mengambil bagian.
Abu Thalhah akhirnya berangkat dalam sebuah perjalanan melalui laut.
Dalam perjalanan itulah ajal menjemputnya.
Kisah menyebutkan, kapal yang membawa rombongan tersebut tidak segera menemukan daratan. Jenazah Abu Thalhah pun baru dapat dimakamkan beberapa hari setelah wafatnya.
Dalam riwayat yang disampaikan tentang akhir kehidupannya, jasad Abu Thalhah disebut tetap dalam kondisi baik hingga ditemukan tempat untuk memakamkannya.
Iman yang Dibuktikan dengan Perbuatan
Perjalanan Abu Thalhah Al-Anshari memperlihatkan bahwa perubahan besar dalam kehidupan dapat bermula dari satu keputusan.
Keputusan untuk menerima Islam yang awalnya berkaitan dengan keinginannya menikahi Ummu Sulaim justru mengantarkan Abu Thalhah menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda.
Ia tidak hanya menjadi Muslim dalam identitas.
Keimanannya terlihat dari kepekaan ketika Rasulullah SAW membutuhkan makanan, keberanian memberikan harta yang paling dicintainya, hingga keteguhan untuk tetap berjuang ketika usia telah senja.
Kisahnya juga mengajarkan bahwa kualitas hidup tidak semata ditentukan oleh banyaknya harta yang dikumpulkan.
Harta dapat habis.
Usia pun memiliki batas.
Namun, amal yang lahir dari keimanan menjadi sesuatu yang meninggalkan jejak jauh melampaui kehidupan seseorang.
Abu Thalhah memiliki banyak kebun, emas, dan perak. Namun, yang membuat namanya terus disebut bukanlah berapa banyak kekayaan yang pernah berada dalam genggamannya.
Yang dikenang adalah apa yang berani ia lepaskan karena Allah SWT.
***
Artikel ini disarikan dari ceramah Ustaz Rois Rahma Fathoni (Ketua DSW PKS Jawa Tengah) yang disampaikan melalui siaran Youtube https://www.youtube.com/watch?v=Ui_u0Ft8igM