Napak Tilas Al Fatih (Kembara Menengah 1 Jateng)


Pantai Laguna-Mirit Kebumen,
Peristiwa heroik yang terjadi pada abad ke-15, dimana Muhammad Al Fatih melakukan mobilisasi 250.000 orang pasukan menuju Konstantinopel, menempuh jarak ratusan kilometer. Diceritakan, perjalanan itu mencapai waktu sampai 54 hari. 

Begitulah semangat yang kami jadikan inspirasi dalam kegiatan Kemah Bakti Nusantara (Kembara) Menengah 1 di Kebumen kemarin. Jika istilah napak tilas dianggap kurang tepat, mungkin bisa diganti dengan simulasi. Tapi benar, itulah yang sedang kami rasakan. 

***

Kami berkumpul dalam sebuah barisan besar. Adalah sebuah pengalaman berkesan yang sungguh luar biasa. Bayangkan, ada lebih dari 1.300 orang, yang datang dari berbagai daerah; mungkin banyak yang belum kenal, akan tapi memiliki hubungan batin yang begitu dekat. Verstehen, begitu istilahnya, atau ta'liful qulub.

Kami datang, berkumpul, berbaris, lakukan upacara, berlatih, belajar, long march, mencari makanan, memasak seadanya, olahraga, flash mob, dramatisasi, berkreasi dan juga melakukan rangkaian rutinitas ibadah harian bersama (amal yaumiyah) hingga tidur, dan aktivitas lainnya. Survival, itulah latihannya. Berlatih untuk bertahan hidup dalam kondisi terbatas. Hanya 3 hari tapi sungguh membawa kesan yang dalam di dalam hati.

*** 

Sungguh tidak berlebihan jika perjalanan ini kami sebut sebagai simulasi perjalanan misi Konstantinopel. Karena memang kami sedang menyelami sebuah perjalanan perjuangan, untuk mengambil ibroh dari sebuah misi penaklukan.

Karena itu, ada beberapa ibroh yang kami dapatkan dari simulasi ini:


Pentingnya Sistem dan Organisasi

Melakukan aktivitas kolosal dengan peserta lebih dari 1.000 orang, tentu bukan pekerjaan yang mudah. Bagaimana sebuah instruksi harus bisa sampai kepada seluruh anggota dengan tepat dan efektif. Di sinilah perlunya ada sistem dan organisasi yang rapi. Saya membayangkan, bagaimana Al Fatih membawa 250.000 pasukan, menempuh perjalanan yang jauh, membawa perbekalan dan juga persenjataan yang banyak. Tentu ada cara pengorganisasian yang luar biasa. 

Dalam lingkup yang lebih kecil, kami melakukannya dalam Kembara kali ini, para instruktur membagi kami dalam satuan-satuan regu. Satuan-satuan ini untuk memudahkan mobilisasi dan distribusi, baik distribusi logistik maupun informasi.


Leadership - Followership

Malam hari, duduk bersama di bawah rindangnya hutan di pinggir laguna, diiringi suara debur ombak terdengar nyata, merapat untuk mendengar sebuah tausiyah rabbani. Lailatul katibah, adalah momen yang sangat kami nantikan. Pesan-pesan ruhani yang sangat menusuk dan menukik dalam batin kami. Pelajaran tentang spiritual, tentang berjamaah dan tentang mengambil peran dalam membangun peradaban. Juga tentang hukum utama organisasi : leadership dan followership, Qiyadah wal Jundiyah.

Sebuah sistem dan organisasi tidak terlepas dari efektifnya sebuah kepemimpinan dan kepatuhan para pengikutnya. Di sinilah kami belajar bagaimana memimpin dan dipimpin. Bagaimana mengarahkan dan juga mematuhi aturan. Bagaimana memberi instruksi dan juga menjalankan. Ada ketua regu ada anggota. Ada pimpinan ada pasukan.

Misi Konstantinopel, pasukan besar itu dibagi dalam beberapa bagian dan divisi, masing-masing dipimpin oleh orang-orang terbaik. Salah satunya komandan pasukan yang terkenal adalah Hasan Tulabath. Sekali lagi, ruh perjalanan misi Konstantinopel itu menggelora dalam hati-hati kami.


Manajemen Sumber Daya

Ada banyak sumber daya yang harus dikelola. Logistik, perlengkapan perang, senjata, termasuk perlengkapan rahasia yang menjadi bagian dari strategi perang. Kendaraan, juga peralatan komunikasi. Bayangkan, 250.000 pasukan bergerak dalam waktu 2 bulan, berapa sumber daya yang dibutuhkan?

Kami hanya dalam hitungan seribuan, hanya 3 hari dan 2 malam. Tapi di sinilah kami belajar memahami, mengerti dan mengelola sumberdaya yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Efektif juga efisien. 

Dalam simulasi survival, kami belajar mencari sumber air, mencari bahan makanan, mengolahnya, menjaga peralatan, perlengkapan bivak, perlindungan diri dari hujan, teriknya panas dan juga bahaya dari luar. Dan banyak lagi sumber daya yang harus dikelola. 

Pertama kami datang, dompet dan alat komunikasi kami dikumpulkan oleh panitia. Bekal makanan dikumpulkan. Minuman seadanya. Dan setelah itu, kami harus berlatih survival hingga 3 hari ke depan. Berat tentu saja. Namun menyenangkan. Berkesan itu pasti. Dan ada ibroh yang kami pelajari. Simulasi ini membawa kami pada kisah perjalanan misi suci Sang Penakluk dan pasukannya.


Manajemen Informasi

Bahwa harus ada distribusi informasi yang valid dan terstruktur agar efektif itu pasti. Bagaimana, di zaman itu, mungkin belum ada sound system, belum ada alat komunikasi secanggih sekarang, namun saat itu informasi bisa terdistribusi dengan cepat, tepat dan pasti. Tentu perlu manajemen informasi yang rapi. Dua ratus lima puluh ribu orang itu jika dibentangkan jaraknya mencapai ratusan kilometer dari ujung ke tepi. Bayangkan bagaimana pentingnya sebuah sistem informasi.

Saat ini, penetrasi media sungguh luar biasa. Manajemen informasi harus ditata. Amniyah harus dijaga. Kitman harus terus diajarkan dan dijalankan. Distribusi informasi harus disusun rapi. Jangan ikut-ikutan menyebar informasi tanpa sanad yang pasti. Instruksi dan bayan hanya sah dari struktur dan tervalidasi. Begitulah Kembara mengajarkan kami.


Ukhuwah adalah Value Kita

Apa yang menggerakkan hingga terjadilah mobilisasi, itu namanya hati. Adanya kesepahaman pikiran, adanya kesatuan pemahaman dan keterikatan ideologi. Keterikatan persaudaraan. Brotherhood. Aktivitas kita mengajarkan ini. Saling mengenal, saling memahami, bersama dan berbagi. Itulah mesin penggerak yang paling inti. 

Perjalanan ini mengajarkan kami tentang ini semua. Makanan yang tidak seberapa dinikmati bersama. Berbagi air walau hanya sekedar membasahi kerongkongan, juga kita kita jalani bersama. Lapar, haus, jalan, beriringan maupun harus ada yang dipapah karena kepayahan, ya dijalani bersama. Inilah nilai-nilai inti (core value) sebuah perjuangan yang harus ditanamkan dalam setiap jiwa. Dan kami dapat merasakan ini selama Kembara.


Beginilah Tarbiyah Mengajarkan Kita

Kembara, mungkin hanya kemah biasa. Namun menjadi istimewa karena ada ruh perjuangan di sana. Menahan lapar mungkin suatu hal yang biasa, namun sambil berjalan belasan kilometer melalui lembah, bukit, rawa, ladang dan hutan serta tepi pantai, tentu butuh komitmen yang luar biasa. Inilah sarana tarbiyah kita. Di sinilah kita ditempa, fisik, mental dan kekuatan jiwa. 

Kembara menjadi bukan kemah biasa, karena di sinilah kita berlatih bersama untuk sebuah misi besar, menjadi kontributor peradaban bangsa, bahkan dunia.

Kembara menjadi bukan kemah biasa, di sini kita memupuk cinta pada tanah air dan bangsa. Ketika bendera kebanggaan kita, merah putih dikibarkan, kecintaan pada NKRI adalah harga final, di Kembara ini kita memupuk kecintaan hakiki pada bumi pertiwi Nusantara. Pengarahan dari aparat kepolisian dan latihan bersama TNI, memberi kesadaran bahwa kita bangsa yang perkasa. Kita kuat jika terus bersama.

Kembara menjadi bukan kemah biasa, di sana ada persaudaraan, di sana ada pengorbanan, di sana ada kebersamaan, di sana ada berbagai pelajaran, di sana ada pengalaman, di sana ada khidmat dan pengabdian, di sana ada cinta.

Sampai jumpa di Kembara berikutnya.

_-JS-103-_
Kembara Menengah 1, Laguna, Kebumen
jateng.pks.id

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang