Halaqah yang Dirindukan

Sebelum mengikuti halaqah, saya dibayang-bayangi cerita indah oleh salah seorang teman yang sudah terlebih dahulu mengikuti halaqah. Maka kemudian ekspektasi saya begitu tinggi, mendapatkan murabbi yang menyenangkan, pengertian, supel, asik, pokoknya murabbi ideal. Sampai suatu ketika Allah memberikan pelajaran kepada saya, bahwa tarbiyah bukanlah tentang siapa murabbi kita, melainkan bagaimana kita bisa berada dalam satu jamaah kebaikan. Kurang lebih 4 tahun saya menjalani halaqah yang saya sebut halaqah tidak ideal, materi yang disampaikan itu-itu saja, murabbi gak asik, temen halaqahnya juga gak asik, kadang hanya ketemu, curhat pulang, halaqah yang datang Cuma 3 orang. Bukan halaqah seperti itu yang saya rindukan, saya merindukan halaqah yang diisi dengan materi-materi yang menambah pengetahuan keislaman saya, halaqah yang benar-benar saya rindukan, jika dalam sepekan tidak menghadirinya bukan justru perasaan biasa-biasa saja saat tidak hadir dalam halaqah.

Dan akhirnya, Allah memang ingin memberikan pelajaran berharga bagi saya. saya diamanahi membina satu halaqah, saya sadar murabbi bukan malaikat atau dewa, murabbi juga manusia yang punya keterbatasan, murabbi bukan seorang public speaking yang bisa dengan berapi-api menyampaikan materi, seorang murabbi adalah manusia yang Allah pilihkan untuk kita. Bahkan murabbi itu ibarat jodoh, Allah yang memilihkannya langsung untuk membersamai menguatkan kita dalam perjalanan dakwah ini. Meski mungkin mereka bukan orang yag pandai memberikan motivasi, tapi percayalah dalam malam-malam panjang, dalam rhobitoh yang mereka pajatkan, mereka mendoakan kita para mutarabbinya untuk tetap istiqomah berada dalam jalan dakwah.

Sempat saya ngambek untuk tidak hadir liqa, karena merasa saya tidak mendapatkan apa-apa. Seorag ustadz berkata “boleh jadi anti ditempatkan di kelompok ini, bukan agar anti banyak menerima melainkan banyak memberi”. Ah….Allah betapa kadang pesanmu begitu indah namun aku yang tak menyadarinya. Dan hari ini, dalam satu lingkaran yang sempurna, meski tidak ada materi dari murabbi, kami saling bertukar cerita, saling berbagi kabar bahagia, saling memberi kekuatan. Kemudian kami menutupnya dengan doa rabithoh yag diselingi isak tangis. Rabbana betapa kemudian saya merindukan pertemuan-pertemua berikutnya, karena tarbiyah bukan tentang siapa murabbi kita, melainkan tentang bagaimana kita bertahan dalam satu lingkaran yang utuh untuk terus bersama-sama saling megingatkan dalam kebaikan. (dakwatuna.com/Umi Sumiyati)

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang