Hijab Menjadikan Aku Diasingkan

Semua ini bermula semenjak aku bergabung di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dengan cara mengikuti Daurah Marhalah 1 beberapa bulan yang lalu. Di dalam organisasi ekstra kampus ini aku melihat ada perbedaan mendasar antara organisasi ekstra kampus lainnya yang pernah aku ikuti semisal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Maklum masih mahasiswa baru, hampir semua organisasi baik ekstra maupun intra kampus coba aku rasakan dinamika yang ada di dalamnya. Diantara semua organisasi yang pernah aku ikuti itu, baru kali ini ada suasana iklim yang berbeda di dalam ukuran organisasi ekstra kampus yang aku dapat terkhusus di dalam pengkaderan yang ia miliki.

Aku akui kedua saudarakau adalah kader HMI di kampus mereka, bahkan yang aku tahu mereka adalah pembesar di kampus mereka masing-masing mungkin seukuran ketua komisariat. Tentu hal itu menjadi cukup jelas sebagai sebuah alasan bagi mereka untuk menjadikan aku juga sebagai kader hijau hitam di kampusku. Karena kami berbeda kampus, aku sedikit memiliki ruang untuk mengikuti organisasi yang aku inginkan, walaupun aku mengikuti Basic Training HMI itu juga karena atas rekomendasi dari mereka.

Semenjak dari SMA aku memang suka berorganisasi. Walau terbilang perempuan, tapi hal itu bukan menjadi penghalang bagiku untuk menjadi wakil ketua OSIS meskipun masih kelas 1 pada waktu itu. Aku juga pernah menjadi kandidat calon ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) di sekolah, waktu itu masih belum ada ROHIS. Hanya ada dua kandiddat kuat, aku dan juga seorang laki-laki yang merupakan teman sekelasku juga. Tapi karena pertimbangan laki-laki selalu ditunjuk sebagai pemimpin makanya waktu itu bukan aku yang menjadi ketua. Saat itu aku protes, aku merasa ada ketidakadilan yang diberlakukan, seolah orang-orang di dalam forum mencoba mendeskriminasikan kaum perempuan. Aku sampaikan kepada mereka semua bahwa jika memang perempuan tidak boleh memimpin dan selalu diprioritaskan untuk laki-laki, mengapa dulu kita memilki presiden seorang perempuan, tapi ternyata itu tidak merubah keputusan. Aku hanya dianggap mengoceh, karena memang anak-anak PII seangkatan Basic Training denganku tahu kalau aku ini tukang protes.

Perkenalanku di KAMMI ternyata cukup mengagetkan. Dulunya aku berpikir ini juga sermasuk sebagai salah satu organisasi garis keras yang ada di kampus, apalagi dengan label “aksi” di dalam penamaannya. Tetapi setelah kegiatan Daurah Marhalah yang aku ikuti menjadikan aku paham bahwa organisasi ini adalah yang paling moderat yang pernah aku ikuti. Aku masih ingat sekali kejadian beberapa minggu yang lalu waktu itu masih hangat isu tentang BBM, di mana rezim pemerintahan Jokowi-Jk kembali ingin menikkan harga bahan Bahan Bakar Minyak di saat minyak dunia malah mengalami penurunan.

Fenomena menarik yang baru aku temukan dan hal itu ada di KAMMI ketika di suatu saat kami sebagai kader KAMMI menjadi anak-anak pecinta masjid/musholah dan di saat yang lain menjadi anak-anak pecinta jalanan (aksi). Tentu hal itu berbeda dengan sebagian organisasi yang aku tahu, mereka sebagai pecinta masjid/mushalla tapi melupakan jalanan. Begitupun sebaliknya bahkan ini yang pernah aku bergabung di dalamnya, ketika mereka mencintai jalanan tapi melupakan masjid.

Semenjak bergabung di KAMMI, selain suasana internal organisasi yang begitu berbeda dengan organisasi lain kebanyakan hal yang juga menurut aku merupakan sesuatu yang baru adalah mengenai soal aksi. Selama bergabung di KAMMI intensitas aksi yang aku ikuti begitu padat aku rasakan dibanding dengan yang lain. Bagaimana tidak, ternyata aku juga baru tahu kalau di KAMMI turun ke jalan bukan hanya di dalam aksi tentang isu kemahasiswaan ataupun isu pemerintahan dimana sebagian besar organisasi kemahasiswaan hanya terjebak di dalam ranah itu. Isu sosial kami kembali turun, tentang gerakan moral turun lagi, kemanusiaan apalagi, isu pemerintahan tentu merupakan agenda wajib. Bahkan baru-baru ini yang tak lepas dari perhatian KAMMI adalah soal isu internasional yaitu dalam bentuk munasharah untuk Palestina.

Hal baru yang kembali aku temukan pasca DM 1 itu adalah ketika dihadapkan pada agenda tarbiyah. Dimana kami para peserta dibagi di dalam beberapa kelompok (masing-masing laki-laki dan perempuan) dan di dalam kelompok itu dipimping oleh seorang mentor. Mentor kami pada saat itu adalah sorang Ukhti yang juga merupakan kakak seniorku di fakultas, aku selang dua tahun dengan beliau, beliau angkatan 2011 sedangkan aku 2013. Di dalam kelompok tarbiyah itulah beliau disebut dengan murobbiah sedangkan kami disebut sebagai mutorobbi.

Di sinilah letak titik awal perjalananku di KAMMI dan letak perubahan hidup di kampus yang aku rasakan. Sebuah dunia baru yang aku temukan, suasana organisasi yang jauh berbeda dari yang sebelumnya yang pernah aku ikuti. Wong bagaimana tidak berbeda, ketika sebagian organisasi mahasiswa tetap saja mencampur baurkan antara laki-laki dan perempuan bahkan seolah tidak ada sekat sama sekali, sementara di sini dunia baru yang aku temukan masih menjunjung tinggi nilai-nilai hijab itu. Disnilah aku merasa kami sebagai kaum perempuan sangat dijunjung tinggi nilai dan status sosial. Ternyata aku baru sadar bahwa memang aturan Tuhan itu bukan merusak keindahan dari kami kaum perempuan, tapi malah mencoba merawat dan menjaga keindahan itu. Melalui KAMMI dengan peralahan aku menangkap pesan Tuhan itu, bahwa di dalam diri perempuan ada keistimewaan yang diberikan dan mereka harus bisa menjaga semua keistimewaan itu. Termasuk soal hijab, bahkan pada saat DM 1 yang sempat menjadi tabir pemisah antara laki-laki dan perempuan yang saat itu juga menuai perotes dariku hingga kelangsungan DM 1 harus terhenti beberapa saat namun dijawab dengan manis dan santun oleh penanggung jawab kegiatan. Protes yang aku layangkan kepada panitia acara bukan hanya sampai disitu, emosiku memuncak pada saat mereka mengumumkan kewajiban kepada semua peserta muslimah untuk menggunakan kaos kaki dengan alasan agar menutup aurat secara sempurna.

“Bagaiman caranya panitia acara mewajibkan kami yang muslimah menggunakan kaos kaki selama acara berlangsung sementara aktivitas di sini begitu padat. Selain itu, bagaima kalau kami ke toilet atau hendak berwudhu ketika waktu shalat tiba atau bagaimana ketika kaos kaki itu basah nantinya? Tentu semua itu malah mempersulit dan membuat repot. Lalu alasan kedua, dari kami mungkin ada yang tidak membawa kaos kaki itu, dan tidak mungkin kalau dari kami harus pergi meninggalkan lokasi kegiatan demi pergi ke pasar untuk membelinya.”

Jawabku tegas waktu itu walau dengan sedikit menahan emosi. Kalimat itu aku sampaikan ketika dari ketua Steering Committee selesai membacakan tata tertib kegiatan. Dari segelintir poin yang mengganjal menurutku bagian itu yang aku anggap menyesakkan pada saat dibacakan.

“Ok baik, untuk alasan yang pertama, ukhti dan para peserta yang lain melihat sendiri bukan disini juga hadir dari panita akhwat dan mereka semua menggunakan kaos kaki dan saya lebih yakin kalau aktivitas dari mereka akan jauh lebih padat dari kalian sebagai peserta. Nah, silahkan saja nanti ditanyakan ke mereka apakah kaos kaki yang mereka semua gunakan itu merepotkan bagi mereka. Lalu, untuk yang kedua tentang yang belum punya disini kami sudah siapkan, jadi nanti silahkan berurusan dengan panitia, dan tentu dengan sedikit kemurahan hati dari yang bersangkutan hitung-hitung beramal. Tapi dananya untuk kepanitiaan juga”

Jawab orang yang berada di hadapan kami dengan ramah. Seolah di mencoba menyampaikan sinyal bahwa di dalam aturan yang dia bacakan itu tidak mesti lagi kami pertanyakan apalagi diperdebatkan. Waktu itu peserta muslimah lebih dari 30 orang, aku pandangi mereka semua, sebagian ada yang terima dengan lapang dada, juga ada yang terima dan pasrah tapi masih ada yang nampaknya keberatan walau hanya segelintir orang termasuk aku.

Sinyal keberatan dari beberapa peserta itulah yang membuat aku tetap ngotot untuk merubah keputusan panitia acara dari poin yang aku anggap memberatkan itu. Akhirnya aku kembali menyangga jawaban dari ketua seteering dan memintanya untuk mengubah aturan itu dengan beberapa alasan yang aku anggap masuk akal. Bahkan aku juga tidak tanggung-tanggung untuk memintanya agara poin yang satu itu dihilangkan saja.

“Maaf sebelumnya mas, karena masih ada dari teman-teman yang keberatan degan aturan kaos kaki itu, bagimana kalau poin itu dihilangkan saja. Saya yakin itu juga tidak menghilangkan subtansi acara DM 1 ini. Lagipula kami semua datang kemari untuk mengitu training ini, bukan malah datang untuk mengenakan kaos kaki.”

Jawabanku tak membuat dia bergeming, seolah poin itu merupakan hal yang sudah paten dan tidak bisa lagi diubah apapun yang terjadi. Tinggal dibacakan dan semua peserta hanya menurut dari aturan itu. Tapi hal itu tidak membuat aku berputus harapan. Aku juga tetap ngotot bahwa itu harus dirubah sebab ketidak sepakatan itu bukan hanya ada padaku, tapi juga ada pada teman-teman pererta perempuan yang lain. Mungkin mereka juga tidak sepakat dan ingin menuai protes, tapi hanya karena tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menyampaikan hal itu.

Kegaduhan menyelimuti suasana. Sudah hampir 60 menit waktu disita hanya untuk berdepat soal kaos kaki. Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat lantaran kami tiba di lokasi DM 1 adalah malam hari masih tertahan karena ulahku. Aku padangi peserta yang lain sudah ada yang mulai lesu bahkan tertidur sambil duduk. Waktu di tempat sudah menunjukkan pukul 23.30 tapi belum juga beistirahat. Aku sempat melihat di dalam random acara akan ada sholat malam pada pukul 03.00 esok hari. Tentu hal itu akan menjadikan berat ketika tidur larut malam. Aku sudah mulai mendengar bisikan dari samping kiri kanan dan belakang untuk berubah pikiran termasuk dari Hastuti teman sekamarku di asrama.

“Sudalah Zaenab, kamu terima saja, ini sudah jam berapa? Lagipula kalau tidak suka nanti kan bisa dilepas sendiri kaos kakinya kalau mereka tidak melihat.” Bisik Hastuti pelan di telingaku. Dia mencoba untuk meyakinkan dan mengubah pendirianku agar bisa segera beristirahat.

Bagiku ini bukan hanya soal menerima atau tidak. Aku bisa saja taat dan menerima aturan itu, tapi sesuatu yang belum masuk di dalam nalar pikirku itu susah untuk aku lakukan. Aku bukannya mau bungkam dari aturan yang mereka buat, cuma aku belum menemukan jawaban yang aku rasa tepat dan aku perlukan. Aku memegang prinsip dan pendirian ketika hal itu merupakan sesuatu yang benar-benar aku yakini tidak melenceng dari kebenaran.

Aku masih bertahan dengan pendirian awalku mengenai aturan itu. Dengan perlahan aku melihat pancaran wajah kemenangan dari ketua steering. Maklum tidak ada lagi suara penolakan yang bergeming. Saat ketua steering berteriak “sepakat” hanya sedikit yang bersuara, dan saat berterian “tidak sepakat” semua peserta diam kecuali aku. Serentak semua isi forum memadangiku tajam baik dari peserta maupun panitia. Bahkan panitia yang berada di luar ruangan serentak masuk hendak melihat dan menyaksikan suasana forum yang semakin lama semakin gaduh. Aku sadar betul bahwa sedari awal aku telah menjadi pusat perhatian seluruh yang hadir di tempat itu.

Melihat perbincangan yang tak berujung, akhirnya dari ketua steering berinisiatif lain lantaran aku belum berubah fikiran. Aku diminta untuk beranjak dari ruangan dan dibawa meninggalkan forum untuk melanjutkan pembahasan mengenai aturan yang belum bisa aku terima itu sebab acara breafing DM 1 malam itu akan segera diakhir karena peserta akan diarahkan untuk beristirahat.

Aku beranjak duluan. Di depan pintuk keluar seorang wanita muslimah berjilbab kecokelatan dengan hijab yang sempurna tentu dengan kaos kaki yang menutupi jemari kakinya dengan perawakan sedikit lebih tinggi dariku merankul lembut dan membawa aku ke ruangan panitia muslimah. Di ruangan itu hanya ada kami bertiga seorangnya lagi aku lihat mulutnya sibuk berkomat kamit dengan mushaf kecil yang ada di tangannya. Kau pandangi ia, busanaya tidak jauh berbeda dengan perempuan yang mambawa aku ke ruangan itu.

“Afwan nama saya Sumiati biasa dipanggi Umi, kalau nama ukhti siapa?” Sapa perempuan itu lembut coba untuk memulai perbincangan.

Aku pikir di ruangan ini aku akan disidang dan berbagai macam tindakan untuk orang yang dinilai pembangkan seperti diriku, tapi ternyata tidak. Dengan kalimat pertama yang lerlontar dari lisan orang yang ada di hadapaunku ini menunjukkan bahwa dia begitu bersahbat.

“Saya Zaenab mbak.” Jawabku dengan suara pelan.

“Nama lengkapnya?”

“Nur Zaenab.”

“Oh iya Zainab, dari tadi Mbak mengamati di forum kamu berkomentar banyak soal ketidak sepakatan tentang kaos kaki, Mbak hanya ingin tahun mengapa kamu sampai begitu ngotot agar aturan itu dihilangkan saja?”

“Saya bukan tidak ingin menerima Mbak Umi, cuman belum ada penjelasan yang masuk di pikiran saya yang bisa membuat saya menerima aturan itu.” Mendengar argumantasi dariku Mbak Umi hanya tersenyum manis.

“Oh.. itu sebenarnya ukhti aturan untuk menggunakan kaos kaki atau berhijab dengan sempurna itu bukan aturan yang panitia acara buat-buat. Tapi semua itu adalah aturan Tuhan. Kami hanya menjalankan apa yang telah menjadi wasiat dari ajaran yang dibawakan oleh Rasulullah SAW. Bukankan sesama muslim itu kita diwajibkan untuk saling mengingatkan di dalam perkara kebaikan, termasuk salah satunya dengan meningatkan kepada sesama saudara muslimah kita untuk berhijab dengan sempurna.”

Jelas Mbak Umi panjang lebar tentang alasan dan urgensi berhijab dengan sempurna. Bahkan beliau membacakan dalil yang kuat tentang itu salah satunya pada Q.S. An Nur ayat 31. Dengan itu logika dan nalar berfikirku sedikit mulai mengerti dan memahami akan urgensi hijab bagi seorang perempuan termasuk dalam hal ini soal kaos kaki yang sedari tadi aku perdebatkan.

“Tapi kok mbak yang satu ini tidak memakai kaos kaki ya Mbak?” Tanyaku penasaran pada Mbak Umi dengan mengarahkan pandangan kepada perempuan yang merupakan orang ketiga di dalam ruangan itu.

Perempuan yang dari tadi aku perhatikan berkomat kamit dengan mushaf di tangannya tiba tiba berhenti dan menatapku kaget.

“Ukhti Zaenab kan ini di dalam ruangan dan tertutup untuk umum, lagipula tidak mungkin ada ikhwan yang sengaja tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini dan melihat aktivitas dari pada muslimah di dalam selama orang itu masih beradab. Jadi tidak masalah jika di dalam keadaan seperti ini, yang jelas bukan di tempat umum.” Jelas Mbak Umi padakau sambil terseyum manis.

***

Nilai-nilai kehidupan yang aku temukan di KAMMI dengan perlahan coba aku terapkan di dalam kehidupanku melalui aktivitas yang ada di kampus. Memang sedikit sulit untuk berubah secara drastis, tapi aku memahami bahwa perubahan itu harus aku lakukan. Ini untuk kemuliaanku, dan untuk masa depanku juga. Alangkah meruginya ketika sebagai seorang wanita aku tidak bisa menjaga semua potensi yang Allah telah berikan padakau, termasuk potensi menjadi seorang muslimah yang seutuhnya.

Langkah pertama yang aku tempuh adalah melalui hijab itu. Aku akan mencoba berhijab dengan sempurna sebagaimana yang aku temukan pada kakak senior yang ada di KAMMI. Jilbab yang menututpi dada mulai aku kenakan. Walau masih agak tipis, lantaran belum terbiasa menggunakan yang tebal seperti Mbak Umi selalu gunakan.

Banyak cobaan yang aku dapatkan semenjak hari pertama menggunakan busana baru itu. Tatapan heran dan seolah tidak percaya dengan apa yang teman-teman di fakultas saksikan terhadap diriku begitu nampak aku temukan pada diri mereka. Sanjungan tapi dengan sedikit nada mencemooh tak luput aku dengarkan lerlontar dari lisan taman-teman seangkatan denganku. Bahkan aku disebutnya insyaf, ustadzah, dan berbagai label lainnya menyelimuti hari-hariku di minggu pertama dengan busana itu.

Di dalam kelas aku juga seperti merasa asing dengan teman-teman perempuan yang lain. Aku memandang diriku agak berbeda dengan mereka dengan hijab yang aku kenakan. Teman-teman laki-laki yang biasanya aku begitu dekat ketika bercanda ria dengan mereka kini mulai sedikit menjaga jarak dan ada perasaan sungkan denganku.

Hal lain yang juga menghiasi hari-hari pertamaku dengan hijab ini adalah aku masih sering merasa kepanasan. Tapi demi mencoba memegang teguh nasihat dari Mbak Umi aku mencoba untuk tabah dan menguatkan hati. Karena rasa panas yang aku rasakan hari ini itu tidak akan sepadan dengan panasnya azab di hari kemudian lantaran ganjaran bagi para perempuan yang tidak menjaga hijab dengan baik.

Di dalam kelas dan lingkup fakultas aku sedikit merasa berbesar hati karena berbeda dengan para muslimah yang lain kebanyakan disebabkan hijab yang aku kenakan menurutku sedikit lebih syar’i. Tapi suasana yang lain dan berbeda ketika berkumpul dengan kader-kader muslimah KAMMI apalagi dengan para kakak senior di KAMMI menjadikan aku merasa kecil. Aku seolah merasa hijab yang menutupi tubuhku masih jauh dari seharusnya ketika melihat busana mereka. Terkadang di satu sisi aku merasa asing ketika berada di tengah-tengan teman-teman di fakultas karena hijab yang aku kenakan lebih tertutup, sementara di sisi yang lain aku merasa hijab yang ada pada diriku masih begitu terbuka ketika berkumpul dan dibandingkan dengan para muslimah di KAMMI.

Aku hanya bisa berharap busana syari’i ini bisa terus melekat di dalam diriku. Dengan berubahnya penampilanku ini juga bisa merubah sikapku menjadi lebih baik serta sikap orang lain terhadapaku. Semoga saja dengan hijab ini bisa menjadikan aku sebagai muslimah yang lebih memiliki wibawah di hadapan para laki-laki sehingga menjadikan mereka tidak seenaknya berbuat kepada diriku dan seluruh muslimah yang ada di permukaan bumi ini. Sehingga memang benar terbukti apa yang telah menjadi kalimat Allah melalui Rasulullah SAW bahwa hijab itu menjadikan para wanita muslimah lebih mudah untuk dikenali dan menjadikan mereka tidak diganggu.


Muh Rusli Sun Syahputra
Dakwatuna

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang