Pasukan Ichwanul Muslimin di Belantara Papua

Hanya berbekal jas hujan, senter, pisau/parang, korek api, dan pakaian yang dikenakannya, puluhan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Papua dilepas menuju hutan belantara di lokasi Kemah Kader PKS Papua, di hutan Holtekam, Jayapura, Papua, Jumat (2/1) hingga Ahad (4/1).

Selama kurang lebih 24 jam, kader PKS Papua dilatih untuk bertahan hidup (survive). Tak ada setetes air minum dan makanan yang boleh dibawa. Peserta kemah PKS itu harus mencari makan di tengah hutan dengan memanfaatkan alat-alat yang dimiliki. Bukan hanya itu, mereka juga harus mampu bertahan menghadapi cuaca panas dan hujan.

Di sela-sela kegiatan, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Papua, Ichwanul Muslimin menyatakan, bahwa kemah kader ini merupakan sarana pelatihan kader untuk mampu menyeimbangkan potensi diri yang dimiliki, baik berupa akal, spiritual, maupun fisik.

“Melalui kegaiatan ini, para kader PKS dilatih untuk menyeimbangkan tiga aspek potensi diri. Dari aspek akal, para kader dibekali dengan berbagai ilmu yang bermanfaat. Secara ruhiyah spiritual diminta untuk melakukan berbagai ibadah, baik wajib maupun sunnah. Terutama dalam aspek fisik, digembleng dengan berbagai latihan agar kuat memikul berbagai tugas yang diberikan,” ungkap Ichwanul.

Ichwanul juga menyebutkan, bahwa kegiatan yang telah menjadi agenda rutin tahunan ini merupakan sarana untuk menggembleng kader PKS agar tidak mudah mengeluh dengan berbagai hambatan yang dihadapi dalam menjalankan tugas.

“Para peserta dilatihkan untuk memiliki daya tahan untuk menghadapi berbagai hambatan dalam menunaikan tugas. Sekali mereka kalah menghadapinya, akan semakin sulit menaklukkan hambatan berikutnya yang muncul. Tetapi ketika para kader mampu mengatasinya, akan terus bisa melaju menunaikan berbagai tugas yang dibebankan kepada mereka,” katanya.

Ichwanul pun menuturkan kisah perjalanan kader PKS saat melakukan survival di tengah hutan belantara. Berbagai kisah menarik dapat diambil dari perjalanan para peserta kemah kader PKS Papua ini.

Di area pelatihan survival, lanjut Ichwanul, para peserta dilatih untuk bisa bertahan hidup dengan memanfaatkan makanan yang tersedia di hutan. Para peserta mulai menerapkan materi survival yang diberikan sehari sebelumnya dalam kondisi nyata. Peserta mulai mendeteksi makanan mana saja yang tidak beracun dan makanan mana saja yang bisa dikonsumsi. Di antara peserta ada yang menemukan tunas kecil pohon pepaya, mereka pun mulai meremas-remas daun pepaya untuk menghancurkannya dan lantas membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil. Bulatan kecil daun pepaya itu pun langsung ditelan tanpa dikunyah, hal ini adalah untuk menghindari muntah saat lidah mengecap pahitnya.

Sementara itu, tambah Ichwanul, sebagian peserta lainnya merasa sangat bersyukur ketika mereka berjumpa dengan setandan pisang mentah. Berbekal korek api, pisang mentah itu mereka bakar untuk menghilangkan getahnya. Pisang muda bakar itu pun mereka akui sebagai makanan terlezat yang mereka miliki saat itu.

"Ada juga yang lebih beruntung dengan menemukan pohon kelapa, buah dan air kelapa segar itu jadi pengganjal perut selama 24 jam masa kegiatan survival. Juga ada pula yang terpaksa meminum air yang menggenang di tanah. Setelah disaring dengan baju yang dikenakannya, air itu pun diminumnya," tuturnya. Hal ini, kata Ichwanul, mereka lakukan karena para peserta lebih mementingkan persoalan menyambung hidup ketimbang masalah cita rasa lidah.

Lebih lanjut Ichwanul memaparkan, ujian bertahan hidup bagi peserta semakin terasa berat ketika hampir tengah malam pada Sabtu (3/1). "Saat itu lokasi perkemahan peserta diguyur hujan deras. Jas hujan - jas hujan milik peserta pun disusun menjadi sebuah tenda kecil, hingga tak tenda kecil itu tak lagi mampu menahan curahan hujan yang sesekali ditimpali petir. Alhasil, peserta pun hanya mampu duduk meringkuk dengan sekujur tubuh basah oleh air," paparnya.

Tak ada lagi peserta yang dapat menikmati tidur pulas dalam kondisi seperti ini. Bahkan, terang Ichwanul, sejumlah kelompok harus bertaruh nyawa ketika pohon lapuk di sekitarnya tiba-tiba tumbang. "Beruntung, jalinan antar pohon dan sulur-sulur tanaman bisa menghambat laju pohon itu mencapai tanah, sehingga ada kesempatan untuk menghindarkan diri dari maut," ungkapnya.

Hujan yang baru berhenti saat lepas subuh itu dirasakan sebagai ujian terberat yang dihadapi peserta, ditambah dengan dinginnya udara malam menjadikan sejumlah peserta pun menggigil. Dalam kondisi demikian bukan hal mudah untuk menyalakan perapian penghangat tubuh, karena semuanya telah basah oleh air.

"Kondisi ujian bertahan hidup yang demikian berat hanya akan menjadikan mereka yang bermental lembek untuk memilih mundur ke belakang. Namun, nyatanya hingga 24 jam watu survival itu berlangsung tak ada satu pun peserta yang surut ke belakang," pungkas Ichwanul. [pkspapua/pks.or.id]

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang