Kokoh di Jalan Dakwah

Perjalanan dakwah adalah sebuah Sunnatullah yang sudah dijalankan oleh Rasullullah SAW. Perjalanan yang membutuhkan kematangan keikhlasan diri, Kematangan ilmu dan Kemapanan Mental. Perjalanan dakwah yang telah dilalui oleh Rasullullah SAW penuh dengan rintangan dan hambatan. Diri, keluarga dan sahabat menjadi pengorbanan yang tak ternilai harganya demi sebuah perjuangan dakwah. Perjalanan dakwah diestafetkan kepada sahabat, anbiyin, alim ulama dan sampai kepada kita seperti sekarang ini.

Nabi Nuh AS telah menghadapi cacian kaumnya, Nabi Ibrahim AS dibakar dalam nyala api, Nabi Isa AS dimusuhi, bahkan Nabi Muhammad SAW mendapat ancaman dibunuh setelah seringkali mendapat cacian, hinaan, dan penyiksaan. Tak ada satu pun dari mereka yang bergeming ataupun lemah lalu berhenti dalam dakwahnya, kecuali tetap kokoh dan semakin gigih dalam mengajak untuk menyembah Allah SWT semata.

Kita tahu bahwa dakwah adalah sebuah perjalanan panjang yang takkan pernah sepi dari rintangan dan cobaan bagi mereka yang melaluinya. Usianya lebih panjang dari penyeru dakwah itu sendiri. Para rasul dan nabi yang telah merintis dan melaluinya telah memberikan banyak pelajaran (ibrah) bagi mereka yang meneruskan estafeta dakwah ini.

Rintangan dan ujian dalam berjuang di jalan dakwah adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Ia pasti akan menghampiri dan tidak akan pernah berhenti karena para nabi dan pengikutnya tak pernah berhenti ataupun melemah karena rintangan dan ujian. Ujian, cobaan, rintangan dan hambatan yang ditemui di dalam perjalanan dakwah ini justru semakin meningkatkan ghirah berdakwah karena ujung dari segala resiko yang dihadapi adalah ridho Allah SWT melalui syahidnya dan kemuliaan yang akan diperoleh.

Dengan kondisi sekarang, perjalanan dakwah semakin terjal dan berduri. Rintangan dan hambatan yang terang dan tersembunyi, yang halus dan yang kasar silih berganti menghadang kita. Keikhlasan diri, kematangan ilmu dan kekuatan mental sangat dibutuhkan dalam perjuangan di dalam Dakwah ini.

Kekuatan tersebut hanya bisa dikokohkan melalui komitmen sebuah halaqoh jamaah. Kebersamaan dalam Jamaah merupakan sebuah kekuatan yang tiada nilai harganya dibanding kesendirian dan tidak mau tahu terhadap dakwah. Musuh-musuh dakwah akan selalu silih berganti untuk melakukan manuver guna menghancurkan, menghadang dan menghambat lajunya percepatan dan frekwensi dakwah ini. Musuh yang terang (Yahudi, Nasrani, dan antek-anteknya) dan musuh yang gelap (Kaum Musyrikin, Kaum Munafikun, dan kaum-kaum yang mengaku islam tapi keluar dari syariat Islam) tidak akan pernah diam untuk terus melakukan berbagai trik dan intrik guna menghancurkan nilai-nilai dakwah ini.

Sebagai penguat motivasi kita agar tetap istiqomah di jalan dakwah ini mari kita simak Firman Allah SWT dibawah ini:

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran [3]: 146).

Dakwah ini adalah tanggungjawab kita semua untuk menjaga keharmonisan, ketentraman dan kedamaian di muka bumi. Kepedulian kita akan dakwah di zaman sekarang harus ditingkatkan dan harus lebih menyentuh. Umat membutuhkan kita. Pengorbanan demi pengorbanan harus segera kita tuaikan di jalan dakwah ini. Buang jauh-jauh kekhawatiran yang menghinggapi diri untuk tetap berjuang dan istiqomah di jalan dakwah ini.

Yakinlah, selama kita kokoh di jalan dakwah maka Allah SWT tidak akan pernah tinggal diam dan akan membantu hamba-hambanya yang telah berjuang untuk membela agamanya karena Allah SWT mengangkat derajat bagi hamba-hambanya yang berjuang di jalan dakwah ini.

Renungkanlah Firman Allah dibawah ini:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebahagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,” (QS Ali Imran;139-140)

Ingatlah bahwa Allah SWT akan memuliakan kita para pendakwah maka berbahagialah. Semakin tinggi volume rintangann itu maka semakin tinggi pula pahala yang Allah SWT berikan kepada setiap sang pendakwah.

Dan telah diketahui bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah sebaik-baik manusia, beliau pula telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala-, baik yang telah lalu maupun yang akan datang (ma’shum). Maka diharapkan bagi setiap da’i yang benar-benar ikhlas berdakwah di jalan Allah –subhaanahu wa ta’ala- pada khususnya, juga kepada setiap orang yang mengaku dirinya muslim pada umumnya agar memberikan peringatan kepada orang yang lupa walaupun dirinya merupakan orang yang terpandang dan memiliki kedudukan di tengah-tengah manusia. Karena hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting dan manfaat-manfaat yang banyak.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. “ (QS. al-Dzariyat : 55).

Semoga Allah SWT menguatkan langkah kita dalam menapaki jalan dakwah ini. Tsabat atas ujian dan rintangan yang menghadang di atas jalan ini. Amin.

Oleh: Bang Opieq
pksnongsa.org

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang