Bertuhan dan Beragama

Manusia yang hidup dan tinggal di bumi mempunyai fitrah percaya kepada Tuhan. Pada kemurnian jiwanya itu ada perasaan, bahwa alam semesta yang indah ini pasti ada yang menciptakan. Alam ini tidak ada dengan sendirinya. Tidak mungkin yang teratur dan tertib terjadi begitu saja, tanpa ada yang mengatur. Siapa Dia? Dia-lah Sang Maha Pencipta jagad raya beserta segala isinya. Maha Pengatur dan Penyusun perjalanannya. Dia Maha Kuasa terhadap segenap sesuatu yang ada. Dia Maha Ghaib yang memang tidak dapat dilihat dan diraba secara langsung. Karena indera manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan.

Tidak selamanya kita mempercayai sesuatu setelah lebih dulu melihat dan merabanya secara langsung. Bahkan, banyak hal yang mengharuskan kita mempercayai sesuatu, meski tidak melihat dan merabanya secara langsung. Kita mempercayai adanya sesuatu, antara lain cukup dengan cara menarik kesimpulan. Karena kita dikaruniai akal pikiran. Sebuah contoh sederhana. Seseorang datang mengetuk pintu sampai tiga kali. Meskipun sang pemilikrumah belum melihat siapa yang mengetuk pintu, tapi ia yakin bahwa ada orang yang hendak bertamu. Ia bergegas menuju ke depan untuk membukakan pintu rumah. Betul ada tamu untuk suatu keperluan.

Ada orang yang mungkin terpengaruh paham atheist. Ia tidak mempercayai sesuatu yang tidak terjangkau oleh indera. Karena ia beranggapan, bahwa inderanya dapat menjangkau segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Tentu pandangan itu tidak benar. Sebab, setiap hari dunia ilmu pengetahuan banyak menemukan hal-hal baru sekitar kita. Ada pula, orang yang mengingkari Tuhan. Karena hal itu sesuatu yang tidak berwujud atau tidak terjangkau panca indera. Padahal, coba renungkan, orang pandai sekalipun belum pernah melihat akal pikirannya sendiri.

Komunisme adalah paham ateis, anti Tuhan, dan memandang agama sebagai racun atau candu bagi masyarakat. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mempraktikkan ajaran Karl Marx telah lama dibubarkan dan dilarang. Tapi, hendaklah kita tetap waspada agar PKI tidak muncul kembali. Sebab, NKRI adalah negara yang berdasarkan Pancasila yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan, komunisme adalah paham yang intinya tidak ada sesuatu di luar alam kenyataan ini. Tuhan dan agama, menurut paham ini, hanyalah “buatan” manusia belaka. Tapi anehnya, setelah Lenin dan Stalin (tokoh Uni Sovyet) meninggal, mayat mereka “dibalsem” dan rakyat “hormat” seperti umat beragama melakukan ibadah. Jadi, itu merupakan salah satu bukti paham ateis berlawanan dengan fitrah manusia.

Bangsa Indonesia secara umum adalah bangsa beragama. Bangsa ini percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kalau ada yang enggan, mengingkari, atau meniadakan Tuhan YME kiranya itu tidak dari hati sanubarinya yang dalam. Percayalah! Sebenarnya, ia ragu dalam keingkaran dan ingkar dalam keraguan. Nah, kita sebagai umat beragama, harap menyadari bahwa percaya kepada atau mengakui adanya Tuhan belum berarti beriman secara sempurna dan sepenuhnya. Sebab, kalau iman berhenti pada arti percaya kepada Tuhan, maka iblispun percaya kepada Tuhan. Iblis menjadi makhluk terkutuk akibat dari sikap pembangkangannya. Tidak mau melaksanakan perintah Allah SWT untuk memberikan pernghormatan kepada Adam. Memperlihatkan kesombongan kepada Allah dengan membandingkan kelebihan asal kejadian dirinya daripada Adam.

Siapa pun yang menyatakan percaya kepada Tuhan dan mengakui ada-Nya tidaklah cukup. Kalau pada kenyataan, ia tidak mengakui kekuasaan-Nya dan mentaati perintah-Nya. Siapa yang percaya kepada-Nya mestilah ia mengakui segala kekuasaan-Nya. Selanjutnya, siapa saja yang percaya kepada dan mengakui kekuasaan-Nya, maka haruslah ia berserah diri, pasrah, tunduk, patuh dan taat kepada-Nya. Ia mentaati segala perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Semuanya itu dilaksanakan secara sadar dan ikhlas untuk mendapatkan ridla-Nya semata. Nah, itulah Islam, agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya. Itulah jalan lurus. Hidayah dan rahmah Allah bagi umat manusia sepanjang masa. Mengantarkan kepada kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dunia akhirat.

Ber-Tuhan memang mestilah beragama. Di negara kita ada bermacam agama. Tiap umat beragama hendaklah mengamalkan ajaran agama masing-masing secara benar. Untuk membuktikan ketaatan diri kepada Tuhan YME. Dalam internal umat seagama dijalin, bahkan ditingkatkan ukhuwwah. Selain itu bekerjasama untuk melakukan usaha bersama. Bahkan, ada tantangan dakwah dan ini penting untuk mendapatkan perhatian. Yakni, mengembalikan aliran kepercayaan kepada ajaran induk agamanya. Sedangkan, dalam hubungan antar-umat beragama hendaklah bertoleransi, saling menghargai dan menghormati keyakinan masing-masing. Terakhir, antara pemerintah dan umat beragama mutlak harus dibangun kerjasama. Bukan hanya saling pengertian, tapi juga saling membantu dan mengisi dalam arti positif. [islamaktual]

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang