Batu Berkilat di Ranjang Setan

Semenjak mengikuti pelatihan ruqyah di Wisma Indonesia, Hamid menjadi paranoid. Apa-apa selalu dihubungkan dengan jin. Ketika mendengar suara-suara aneh di rumah atas, menurutnya memang jin senang menempati rumah kosong.  Dan parahnya, Hamid jadi penakut minta ampun. Ke mana-mana minta di kawal. Padahal di musim panas begini, malam hari di Kairo selalu ramai.
Yang paling pusing tentu saja Irfan, teman serumahnya. Dia yang kena getahnya, jadi seksi sibuk. Yang menemani tidurlah, yang mengantar ke warnetlah, yang mengantar ke manalah. Pokoknya capek deh! Untung saja kamar mandinya ada di dalam rumah. Coba kalau di luar, pastinya Irfan bakalan jadi satpam penjaga WC kalau Hamid buang hajat. Untung saja Irfan orangnya penyabar. Walau jujur kadang agak dongkol juga.
“Jangan-jangan kamu sendiri yang kemasukan jin, Mid!”, kata Irfan suatu hari, sambil santai.
“Ah, masak Fan, kamu jangan nakut-nakutin gitu dong! Tapi, memangnya apa aku ada tanda-tanda kemasukan jin, Fan?”. Nah, lho! Gantian Irfan yang bingung. Orang cuman bercanda kok dikira serius. Beberapa hari ini bahkan Hamid mulai kelihatan konsultasi serius dengan Ustadz Akmal, ahli ruqyah mahasiswa Kairo. Duh, Irfan jadi merasa bersalah.
Hamid dan Irfan adalah sahabat dekat. Mereka berasal dari satu pesantren. Sekarang mereka di tingkat tiga Fakultas Syari`ah Universitas Al Azhar, Kairo. Di negeri yang hobi bongkar pasang jalan aspal ini, sudah dua tahun mereka tinggal bersama di kawasan Distrik 10, Nasr City, Kairo. Rumah mereka adalah flat kelas menengah yang terletak di lantai dua. Sebenarnya rumah mereka bisa dihuni enam orang, tapi sejak bulan lalu tinggal mereka berdua. Rencananya mulai bulan depan tiga orang adik kelasnya yang akan datang dari Indonesia akan tinggal bersama mereka. Tinggal mencari satu orang lagi, genap enam orang, beres kan?. Mereka berdua akan menjadi senior untuk adik-adik nanti. Atau nemenin, gitu saja enaknya. Soalnya, tahu sendiri kan, di Kairo anak baru kalau nggak ditemenin bahaya juga. Tapi, lha kok calon seniornya jadi penakut begini?
Bulan Agustus, suatu saat di malam Jum’at. Nggak jelas Jum’at apa, soalnya kalender di Mesir nggak pakai pon-wage-kliwon, sih. Tapi yang jelas Hamid dan Irfan lagi berduaan di rumah. (nggak mungkin kan Hamid sendirian, ya nggak?). Mereka menunggu pemilik rumah, Ustadz Musthofa, yang akan datang mengambil uang sewa bulanan jam setengah sebelas nanti. Tiba-tiba…
“Kriiiing…kriiiing”, dering telepon memecah hening.
“Ah, jangan-jangan Ustadz Musthofa nggak jadi datang”, kata Irfan.
“Hallo, Assalamu’alaikum…oh, kak Ridho, gimana kak…ada yang bisa dib…hhhh..apa? oooo….alhamdulillah…ooo….lho, kok?”, Hamid yang ikut nguping agak bingung, ada apa ya? Jarang-jarang kak Ridho, kakak ipar Irfan itu menelepon malam-malam begini. Dia mencoba menebak-nebak.
“Tapi…aduh iya deh…tapi gimana ya? Mid…aduh, emmm”, Irfan diam, tampaknya dia sedang mendengar penjelasan dari kakaknya.
“Kenapa Fan, ada yang bisa kita bantu?”, Hamid jadi ingin tahu.
“Okelah kak, saya ke situ sekarang!”. Apa? Oh, tidak! Hamid menutup mulutnya. Irfan mau pergi?
“Aduh, gimana Mid ya,…mbak Rita mau melahirkan. Kak Ridho nggak ada yang ngebantuin. Jadii…”, Irfan langsung menjelaskan kepada Hamid.
“Jadi kamu disuruh ke sana?”, potong Hamid  pias.
“Iya, ikut mengantar ke klinik. Gini deh, kamu kan bisa nelpon si Adib, suruh ke sini nemenin. Aku harus buru-buru nih, kasihan kak Ridho dan mbak Rita, gimana?”, Irfan tampak tergesa-gesa. Hamid jadi tak enak hati mau menyanggah. Sebenarnya dia mau ikut juga kalau boleh. Tapi siapa yang menunggu Ustadz Musthofa?
“Iya deh..”, Hamid akhirnya mengalah. Irfan segera beranjak.
Hamid langsung menelepon Adib, temannya, buat nemenin dia malam ini. Tapi, aduuhhh….kok teleponnya sibuk terus sih. Hamid mulai tegang. Tiba-tiba..
“Ting..tong!”
“Ahhhh….”. Jujur, Hamid kaget setengah mati. segera dia beranjak ke pintu. Mengintip lewat lubang kecil di pintu rumahnya. Oh, Ustadz Musthofa! Aduh, tertunda deh meneleponnya.
“Assalamu’alaikum..”
“Wa`alaikum salam, ahlan wa sahlan, tafadhol ya Ustadz!“, sapa Hamid ramah. Ia mempersilakan tuan rumahnya duduk.
Alfu syukri ya habibi, izzayyak?”, balas Ustadz Musthofa, tak kalah ramah.
Seperti biasa lalu mereka terlibat obrolan seputar kondisi rumah. Gimana kulkasnya, bagus enggak. Gimana kamar mandinya, masih bocor nggak. Gimana ininya, gimana itunya. Lalu Hamid segera menyerahkan uang sewa. Delapan ratus Pound Mesir.
“Kamu sendirian?”, tanya Ustadz Musthofa kemudian.
“Iya ustadz”. Iya nih, pak. Gimana dong, saya ketakutan nih! Bisik Hamid dalam hati.
“Baiklah, mungkin kamu mau segera tidur, saya pamit dulu”, kata Ustadz Musthofa. Mereka lalu bersalaman. Ustadz Musthofa segera menuju pintu. Tapi, ah! Kakinya menyandung kabel telepon, dan putus!
Asif ya habibi, asif!“, Ustadz Musthofa merasa bersalah, “tapi ini cuma putus di sambungannya kok, kamu bisa memperbaiki sebentar, Masyi? baik, saya pulang dulu! Assalamu’alaikum”.
Tinggal Hamid yang melongo sendirian. Enak aja nyuruh mbetulin. Lalu gimana saya nelpon Adib? Lagian urusan kabel begituan mana paham dia? Ia semakin panik saja.
Malam semakin beranjak larut. Jam setengah dua. Hamid benar-benar tersiksa. Usahanya menyambung kabel telepon sia-sia. Memang yang urusan begituan biasanya Irfan yang menangani. Tapi Irfan tak mungkin diharapkan datang malam ini. Mau ke rumah Adib, sudah malam. Di sekitar rumahnya tak ada kios telepon. Sementara tetangga-tetangganya yang orang Indonesia sudah berkeluarga semua. Masak iya mau nyuruh mereka nemenin.
Dan yang dikhawatirkan Hamid benar-benar terbukti.
“Grok…grok..gluduk..gluduk…trrrrrook!”.
Suara-suara aneh di rumah atas, seperti malam Jum’at yang lalu. Hamid mulai panik. Tangannya berkeringat dingin. Tapi suara itu tak kunjung berhenti.
“Grok…grrok…trroookkkk…gglodak!”.
Seperti suara barbel di gelindingkan, ranjang atau kaki-kaki meja yang ditarik ke sana kemari. Hamid mencoba tak peduli. Di setelnya kaset murattal Musyari Rosyid Affasy keras-keras di kamar. Lalu ia berjingkat ke dapur. Maksudnya mau menghabiskan sisa makanan. Tiba-tiba saja ia merasa lapar.
Tetapi sesampai di dapur…
“Lho, ayam goreng tadi mannaa…?”.
Hamid terheran-heran, perasaan tadi masih ada sepotong ayam goreng di atas kulkas. Hiiii… Hamid bergidik ngeri dan langsung lari ke kamar. Lalu segera menyelimuti diri dengan selimut tebal. Tak peduli udara musim panas yang gerah dan keringatnya yang bercucuran.
Bulan September yang kering. Angin malam berhembus pelan. Di rumahnya, Hamid dan Irfan sudah tidak kesepian lagi. Empat orang adik kelasnya sudah datang dari Indonesia dua minggu lalu. Mereka sekarang sedang ngobrol santai sambil menikmati `isy, roti bakar khas Mesir, bubur kacang dan kentang goreng chipsy. O iya, adik kelas asli Hamid cuma tiga orang. Namanya Fadhli, Arif dan Aziz. Satu lagi, Mufid, bukan asli adik kelas mereka. Mufid lulusan sebuah pesantren di Jawa Timur. Di Kairo, ia tidak punya teman satu almamater. Jadi ya sudah, di bawa saja sama Hamid dan Irfan untuk tinggal bersama mereka. Toh, anaknya shalih dan rajin. Dia selalu shalat berjamaah di masjid, di shof terdepan lengkap dengan sarung dan peci hitamnya.
Tapi sebenarnya sudah dua minggu ini semenjak kedatangannya, Hamid merasa ada yang aneh dengan Mufid. Ia melihat Mufid menyimpan sebongkah batu, yang selalu di taruhnya di pojok kamar di bawah ranjang. Ukurannya sedang, dan warnanya putih mengkilat. Apa-apaan ini? kalian pasti tahu apa yang di ada di benak Hamid : jin! Sebab menurut keterangan yang ia dapat dari Ustadz Akmal, seseorang yang sengaja memelihara jin sering menyimpannya pada benda-benda tertentu, seperti batu akik, keris dan sejenisnya. Dan ini, bukankah…ah, Hamid masih ragu mengambil kesimpulan. Sejauh ini ia masih menahan diri untuk tidak bertanya ini itu. Ia juga masih ragu untuk membicarakannya dengan Irfan. Karena Irfan pasti malah akan mengolok-oloknya. Makannya secara diam-diam ia sering mengamati tingkah laku Mufid, mulai dari teman bergaulnya, buku-buku bacaannya, …sampai cara wiridannya!
Ahad pagi di bulan September yang ceria. Hamid sedang berolahraga di taman komplek pasar mobil yang terkenal itu, di jantung Distrik 10, ketika tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.
“Assalamu’alaikum..!”
“Wa`alaikum salam, eh, Imad, izzayyak?“, rupanya Imad, teman sekelas Hamid yang asli Mesir itu. Ia sudah datang lagi ke Kairo setelah pulang kampung ke Manshuroh selama liburan.
Kuwais, alhamdulillah, gimana hasil ujian, tamam?
“Alhamdulillah, Robbina yuwaffiq“.
Lalu mereka terlibat obrolan yang santai dan akrab. Di tengah obrolannya, secara sambil Hamid bertanya tentang suara-suara misterius di atas rumahnya.
“Oh..itu, kamu dulu pernah menanyakannya, bukan?”, nah untung Imad ingat, jadi Hamid tidak perlu bercerita ulang.
“Ya, dan kamu belum menjawabnya”, Hamid setengah mendesak.
Imad tersenyum. Dia sendiri sebenarnya tidak tahu, tapi toh sejauh ini dia menganggap Hamid tidak terlalu serius dengan pertanyaannya. Masak ia sih mahasiswa Al Azhar percaya hantu. Makanya kemudian Imad pun menjawab dengan gurauan.
“Dulu ada cerita,” kata Imad memulai. Mimiknya serius. Ia kini duduk di pagar semen di ujung taman. Hamid jadi  mendengarkan dengan seksama.
“Ada seorang pemuda di Kairo, namanya Romi. Dia sangat berambisi menjadi olahragawan terkenal. Karenanya, tak peduli siang malam dia berlatih fitnes dan olahraga. Siang di klub, malam di kamarnya. Ranjang di kamarnya selalu di geser ke sana kemari supaya cukup luas untuk berlatih. Suatu malam ia sedang berlatih mengangkat barbel di kamarnya. Ranjang tidurnya diangkat sedemikian rupa, dan ujungnya di sandarkan di dinding. Tapi ia kurang berhati-hati. Ujung ranjang yang di angkatnya ternyata tidak cukup kuat tersandar di dinding. Ranjang itu lalu jatuh terhempas. Romi yang sedang mengangkat barbel berat tak sempat menghindar. Tubuhnya terhantam ranjang dan kepalanya tertimpa barbel berat itu. Konon waktu itu keluarganya sedang pergi semua, jadi tak ada yang sempat menolongnya. Pagi-pagi ia di temukan sudah dalam keadaan tewas…”.
“Ohh…”, Hamid bergidik ngeri.
“Kapan itu terjadi Imad?”
“Sudah puluhan tahun yang lalu, tapi itu tidak penting…”, Imad sengaja menggantung kalimatnya.
“Lalu?”, kejar Hamid.
“Yang penting, kata orang penjelmaan Romi masih suka muncul dan berlatih fitnes terutama di malam hari, karena obsesinya yang belum tercapai. Orang menyebutnya Romi dan tragedi ranjang setan!”.
Deg! Dada Hamid berdesiran aneh. Belum lagi ia berkata-kata, Imad sudah menyambung lagi.
“Dan ada lagi yang lebih penting, Hamid”
“Apa itu?”
“Kalau mahasiswa Al Azhar seperti kamu masih percaya dengan cerita mistik bohong seperti itu, sebaiknya kamu lapor saja ke Syaikh Azhar dan minta pulang ke Indonesia sekarang juga ha..ha..ha”, Imad mengakhiri ceritanya sambil beranjak untuk melanjutkan lari paginya.
Mau tak mau Hamid tersenyum juga, tapi senyumnya agak lain. Di otaknya berkelabatan memori-memori mengerikan tentang cerita Imad barusan. Tragedi ranjang setan! Ah, apakah aku harus menemui Syaikh Azhar sekarang, minta izin pulang? Bisiknya dalam hati. Soalnya di luar dugaan dia jadi benar-benar merasa  takut.
Sepulang dari olahraga, sambil menenteng segelas jus kurma dingin, Hamid  bermaksud beristirahat di balkon ruang tamu ketika dia memergoki Mufid sedang meletakkan sesuatu di pojok ranjang.
“Mau ke mana Fid, pagi-pagi sudah rapi?”, sapa Hamid.
Yang disapa agak terkejut.
“Eh, kak Hamid. Ini..emm… mau ke rumah teman di Masakin Usman.” Mufid agak gelagapan. Saat itu Hamid melihat dengan jelas Mufid sedang menyimpan batu  berkilat kepunyaannya di pojokan ranjang. Lalu ia teringat cerita Imad yang baru tadi  didengarnya, dan cerita Ustadz Akmal tempo hari tentang orang-orang yang sengaja memelihara jin pada benda-benda tertentu. Hamidpun kemudian merasa mantap mengambil kesimpulan, tak diragukan lagi,  batu berkilat di ranjang setan!
Mufid sudah pergi. Saat itu kebetulan rumah lagi sepi. Arif dan Aziz di ajak Irfan menginap di rumah Adib, dan belum pulang sampai sekarang. Sementara Fadhli masih tidur pulas di kamar sebelah. Hamid lalu mengendap-endap mendekati tempat penyimpanan batu itu. Pelan-pelan di bukanya kasur merah di atas ranjang. Kemudian tampaklah kardus kecil di bawah ranjang yang masih setengah terbuka. Hati-hati ia membuka ujung kardus, dan… nah itu dia! Seonggok batu putih berkilat menyembul di kegelapan dalam kardus. Buset, rapi ‘kali menyimpannya.
Sejenak Hamid ragu. Tapi, ah… Allahu akbar! Ia menjulurkan tangannya ke dalam kardus, dan mengambil batu misterius itu. Masih agak basah. Lalu dengan hati-hati diamatinya, warnanya memang indah. Tapi ada apanya ya? Sekedar mengikuti nalurinya, Hamid kemudian mencium batu yang agak lembab itu pelan-pelan.  Baunya aneh, dan sulit di definisikan. Lalu di ciumnya lagi berkali-kali sambil otaknya bekerja menguak memori tentang bau-bauan yang pernah di kenalnya. Tapi ah, sia-sia. Bau batu ini agak aneh. Nantilah pada saat yang tepat di tanyakan, batin Hamid. Dengan hati-hati ia kembalikan batu itu pada tempatnya, persis seperti semula. Yang jelas, Hamid sudah mulai yakin dengan dugaannya.
Malam Jum’at, di akhir September yang masih agak gerah. Di dalam bus kota yang sedang melaju di Syari` Thoyron, Hamid dan Irfan nampak sedang bercakap-cakap. Mereka baru pulang dari berkunjung ke rumah kak Ridho di kawasan Rab’ah el Adawiyah. Rupanya Hamid baru saja selesai bercerita tentang batu mengkilap di pojokan ranjang kepunyaan Mufid itu.
“Batunya berwarna cerah mengkilap, tapi lembab. Baunya aneh, agak hambar. Aku menciumnya berkali-kali. Sulit di ungkapkan…atau sulit di definisikan, begitulah!”, kata Hamid bersemangat.
“Hati-hati, tabayyun dulu, jangan buru-buru mengambil kesimpulan!”, saran Irfan. Ia merasa Hamid agak berlebihan, sampai di ciumi segala.
“Iya, iya, makannya kita cari saat yang tepat…”, percakapan mereka terhenti ketika seseorang mencolek punggung Hamid  dari belakang.
“Eh, Ustadz Salman, ahlan wa sahlan, dari Wisma ya?”, berondong Hamid tanpa titik koma.
“Iya, nih!”, jawab Ustadz Salman , agak kurang selera.
“Tapi kenapa Ustadz, kok kelihatan lesu?”, tanya Irfan. Kayaknya kelaparan deh, bisik Hamid dalam hati.
“Begitulah, mahasiswa Kairo memang aneh. Katanya orang-orang intelektual, tapi diskusi  tentang syariat islam yang hadir cuma segelintir orang”, kata Ustadz Salman, masih dengan wajah kuyu. Hamid cuma bisa ber oooo dalam hati.
“Kalah dong sama pelatihan ruqyah?”, kata Hamid mencoba menghibur. Asal tahu saja, pelatihan ruqyah yang diadakan bulan lalu sukses besar. Auditorium Wisma penuh sesak. Dan tahu nggak siapa ketua panitianya, Ustadz Salman!
“Nah, kebetulan Antum mengingatkan. rencananya kita akan mengadakan pelatihan ruqyaah lagi. Karena banyak sekali permintaan, sehubungan dengan sudah berdatangannya anak baru”, kata Ustadz Salman panjang lebar.
“O ya?”, Hamid tersentak, seperti diingatkan sesuatu, Mufid!
“Kapan Ustadz, kebetulan adik-adik kelas saya sudah datang. Tampaknya mereka bakal tertarik”, kata Hamid girang.
“Insya Allah dua tiga minggu lagi, doakan aja. Yok, saya duduk di depan”, kata Ustadz Salman sambil berlalu.
“Ini nih, kesempatan!”, kata Hamid setengah berbisik pada Irfan. Yang dibisiki manyun saja, “Allah memang Maha mengetahui hati hambanya yang shalih, ya Fan..hehehe..”
“Iya, apalagi hamba yang shalih dan penakutnya minta ampun, hahaha…” balas Irfan sekenanya.
Tak terasa bus sudah sampai di kawasan Distrik 10. Dua sahabat lama itupun turun.
Malam sudah pukul sebelas, ketika mereka sampai di rumah. Baru saja Hamid hendak menyantap sebongkah sandwich, ketika suara itu terdengar lagi…
“Groooookkkk….grooookkkk…glodak…glodak!”, seperti ranjang yang di geser ke sana kemari . Lalu…
“gluduk…gluduk…gluduk…!”, seperti suara barbel yang di gelindingkan. Irfan cuek aja. Toh, sudah biasa. Sedangkan adik-adik sudah pada tidur. Tapi Hamid lain ceritanya. Ia mulai panik.
“Fan, kamu dengar itu kan?”, kata Hamid hati-hati.
“Iya, terus mau di apain?”, Irfan balik bertanya.
“Tak mungkin, tak mungkin…”, gumam Hamid sendirian. Ia bergidik ngeri membayangkan cerita Imad tempo hari. Tragedi ranjang setan!
“Kamu kenapa sih, Mid?”, Irfan keheranan. Lalu mengalirlah cerita Hamid mengenai Romi si calon atlet itu, lengkap dengan tragedi ranjang setannya. Irfan hampir tertawa mendengarnya. Tapi kemudian naluri keberaniannya bermain.
“Okelah, ayo kita buktikan sekarang!”, tiba-tiba saja ia bangkit sambil menarik tangan Hamid. Ia bermaksud mendatangi rumah atas. Hamid tak sanggup menolak, walau sebenarnya ia ketakutan setengah mati.
Sesampai di rumah atas, Irfan langsung mengetuk pintu keras-keras. Tak ada jawaban. Suara-suara itu masih saja terdengar. Irfan mengetuk lebih keras lagi dan baru pada ketukan yang ketiga pintu terbuka. Hamid sudah siap-siap lari, ketika seraut wajah yang sudah dikenalinya menyembul dari balik pintu..
“Ustadz Musthofa!”, Hamid dan Irfan saling berbarengan.
Ahlan ya habibi, ahlan!”, rupanya Ustadz Musthofa, tuan rumah mereka. Tapi lagi ngapain beliau?
Lalu mengalirlah cerita dari mulut Irfan tentang suara-suara aneh di setiap malam Jum’at itu.
Ma`lesy ya Hamid, ma`lesy ya Irfan, aku belum menceritakannya pada kalian”, kata Ustadz Musthofa ramah.
“Rumah ini milik adik saya, dan baru akan ditinggali bulan depan. Baru minggu–minggu ini kami sempat membersihkan. Itupun sempatnya hanya waktu Kamis malam karena adik saya sibuk bekerja”, Ustadz Musthofa menjelaskan panjang lebar.
“Maaf kalau setiap malam Jum’at kalian terganggu, karena memang banyak sekali perabotan berat yang harus di rapikan. Saya pun baru sekarang sempat membantu, biasanya adik saya sendirian. Tapi alhamdulillah sudah hampir selesai”.
Irfan dan Hamid manggut-manggut. Mereka jadi tak enak sudah mengganggu orang yang sedang sibuk bekerja. Setelah berbasa-basi seperlunya merekapun pamit .
“Gimana, sudah puas?”, kata Irfan, sedikit gondok.
“Oke…oke…tapi itu baru satu. Bagaimana dengan daging dan tulang di dapur yang sering hilang?, bagaimana dengan batu berkilat itu?”, balas Hamid tak kalah sengit.
Baru saja mereka duduk di kursi ruang tamu ketika sesosok bayangan tampak berkelebat di dapur. Irfan berlari menghampiri.
“Nah, ini dia jin yang suka mencuri tulang!”, teriak Irfan kemudian dari arah dapur. Di hadapannya seekor kucing yang sedang menggigit tulang ayam tampak ketakutan.
“Tapi bagaimana dia bisa naik?”, tanya Hamid.
“Lihat, dia naik lewat pohon itu dan melompat ke dapur”, jelas Irfan.
Jadi ternyata selama ini kucing rumah bawah yang suka mencuri lauk di atas kulkas. Kucing itu suka memanjat pohon yang tumbuh di samping rumah. Dari situ ia melompat ke dapur yang jendelanya memang jarang ditutup.
“Gimana, Mid, tambah puas, sudah dua jin kita temukan dalam semalam!”  kata Irfan, sedikit mengejek.
“Iya, iya…tapi kan masih satu lagi!”, kata Hamid. Apa lagi maksudnya kalau bukan batu berkilat itu.
Awal bulan Oktober, subuh hari yang sudah mulai terasa dingin. Hamid, Irfan dan adik-adiknya sedang berkumpul di ruang tamu. Ini acara rutin mingguan rumah mereka. Membaca Al Quran bersama, tadabbur, dan sekedar ngobrol santai tentang keadaan rumah. Tampaknya mereka masih sedikit terkantuk-kantuk setelah semalam mengikuti seminar pelatihan ruqyah babak kedua sampai hampir tengah malam. Pesertanya , sudah diduga, kembali membludak.
Tapi Hamid tidak mengantuk sedikitpun. Sebaliknya ia justru agak tegang. Rencananya ia akan menggunakan momen kumpul rutin rumah ini sebagai ajang klarifikasi pada Mufid perihal batu berkilat yang masih misterius itu. Apalagi menurut perasaan Hamid, semenjak kepergok, Mufid jadi agak hati-hati kalau mau membuka kardus batunya.
Dan sekarang giliran Hamid bicara,
“Teman-teman sekalian, sebagaimana yang sudah kita dengarkan dari Ustadz Akmal dan Ustadz Zulfi semalam…”, Hamid berbicara berputar-putar mengenai batasan-batasan bermuamalah dengan jin, mencari pembukaan yang pas sebelum masuk ke sasaran  tembak. Anak-anak jadi serius memperhatikan.
“Bagaimana pendapat Antum, Fid?”, tanya Hamid tiba-tiba.
“Ya, saya setuju sekali”, kata Mufid mantap, “benda-benda itu hanya akan mengakibatkan syirik. Aqidah kita harus bersih dari hal-hal semacam itu”, lanjut Mufid dengan nada yakin.
Sekarang giliran Hamid yang heran. Lho kok? nggak ngerasa ya?
Teman-teman yang lainpun kemudian bergiliran berbicara. Intinya mereka sepakat bahwa kemurnian aqidah harus selalu di jaga dari segala bentuk kesyirikan.
“Kalau memang begitu ada hal yang ingin saya tanyakan sama Antum, Fid”, kata Hamid kemudian dengan hati-hati  setelah merasa saatnya tepat.
“Oya, apa itu kak?”, Tanya Mufid heran. Selama ini ia tidak merasa berbuat sesuatu yang salah.
“Saya lihat Antum menyimpan sebongkah batu berwarna mengkilap di bawah ranjang, kalau boleh tahu buat apa sih?”
” Loh…eh…ya Allah…kak..itu kan..”, Mufid tampak grogi.
“Apa Fid?”, desak Hamid tak sabar.
Mufid agak ragu. Selama ini ia merahasiakan kebiasaannya menggunakan batu itu karena khawatir di anggap kebiasaan anak kampung.
Kemudian katanya,
“Kakek saya yang menyuruh saya membawanya, saya sebenarnya sudah tidak mau, tapi beliau memaksa”.
“Iya, tapi buat apa?”, kejar Hamid dengan tidak sabar. Irfan jadi ikut-ikutan penasaran.
Lalu sambil menunduk malu-malu Mufid mengaku,
“Itu kan…itu kan… batu buat gosok ketiak saya sehabis mandi!”.
Glek! Hamid menelan ludah. Wajahnya pucat. Terbayang apa yang dilakukannya terhadap batu lembab mengkilat itu dan bau-baunya yang aneh dan… sulit didefinisikan!
Di sebelahnya, Irfan tertawa terpingkal-pingkal.

 Muhammad As'ad Mahmud, Lc
 Dakwatuna

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang