Tindakan Represif Aparat Berlanjut, KAMMI Menyampaikan Protes

KAMMI Mengutuk Tindakan Aparat dalam Menangani Demonstran

Sudah lebih dari sepuluh hari Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Wakil Presiden M. Jusuf Kalla (JK) beserta jajaran kabinetnya secara resmi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Akibat dari keputusan itu harga barang pokok meningkat. Kebutuhan dasar hidup rakyat pun ikut meningkat. Sementara itu, daya beli masyarakat menurun.

Hal itulah yang mendasari mahasiswa bersama rakyat dengan tegas menolak keputusan pemerintah  dan menuntut pemerintah agar mencabut keputusan tersebut. Berbagai demonstrasi penolakan di lakukan elemen bangsa di seluruh daerah, bahkan berujung bentrok dengan aparat. Apalagi aparat cara-cara represif dalam menangani demonstran.

Peristiwa di Makassar yang membuat terbunuhnya rakyat, penyerbuan sampai ke mushalla di Riau, tindakan represif di Rembang, dan daerah lainnya adalah tanda rezim tiran telah lahir. Merespon tindakan aparat itu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sebagai organisasi pergerakan mahasiswa menyatakan sikap:
  1. Mengutuk tindakan refresif aparat dalam menangani demonstran.
  2. Meminta pertanggungjawaban dari Kapolri dan Menkopolhukam atas peristiwa yang terjadi.
  3. Tetap mendesak pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM.
  4. Mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus turun ke jalan dan mendesak pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM.

Demo Tolak Jokowi Ricuh, Enam Mahasiswa Terluka

Demo menolak kedatangan Presiden Joko Widodo yang digelar Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Walisongo Semarang di depan kampus mereka, Selasa (2/12) pukul 10.00 WIB, berakhir ricuh.

Baku hantam antara aparat Polrestabes Semarang dan pendemo terjadi saat ratusan mahasiswa tersebut hendak bergerak ke jalan raya.
Dalam bentrok tersebut, enam mahasiswa UIN Walisongo Semarang terluka parah dan dua lainnya diamankan petugas. Sementara di kubu polisi, dua anggota terkena pukulan bambu pendemo dan mengalami luka memar.

Kericuhan berhenti saat petugas menembakan gas air mata hingga para pendemo kalang kabut masuk ke kampus mereka.
Kordinator Lapangan PMII, Asem Saefulloh mengatakan, bentrok itu bermula saat pihaknya hendak melakukan long march menuju ke kawasan Johar untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada Jokowi.

“Namun saat kami bergerak, kami langsung dihadang puluhan aparat yang langsung mendorong kami,” ungkapnya.

Tindak itu berlanjut dengan aksi pemukulan dan tembakan gas air mata. “Kami sangat menyanyangkan tindakan polisi,” ujarnya.

Sementara itu, Kasat Sabhara AKBP Basuki mengatakan, gejolak itu terjadi saat para mahasiswa dengan sengaja mendorong anggotanya yang berusaha memberi pengarahan kepada mereka. (dakwatuna/suaramerdeka)


0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang