Tiga Faktor Penyebab Gangguan Kepribadian Muslim

Sifat merasa diri lebih baik dari orang lain adalah wujud nyata dari kesombongan

Menjadi Muslim di era global seperti sekarang memerlukan keteguhan hati dan kesungguhan upaya untuk tetap eksis hidup di atas landasan iman dan takwa. Jika tidak, boleh jadi status kita masih sebagai Muslim, namun dalam konteks cara berpikir dan tindakan, semua justru jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim mengerti tentang kepribadian Muslim yang benar agar terhindar dari pengaruh-pengaruh destruktif di era modern yang secara cepat atau lambat akan menggerus kepribadian kita sebagai seorang Muslim.

Pertama, lingkungan. Menurut Fathi Yakan dalam bukunya Musykilat Dakwah wa Ad-Duatyah penyebab gangguan kepribadian yang paling dominan adalah lingkungan. Terutama lingkungan tempat proses pembentukan kepribadian tidak Islami.

Lingkungan yang seperti itu jelas berpengaruh signifikan terhadap setiap orang yang hidup di dalamnya, baik disengaja maupun tidak.

Kedua, persahabatan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu, bahwsannya dia mendengar Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin dan jangan ada yang menyantap makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Tirmidzin dan Abu Dawud).

Kemudian, Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu memiliki prinsip hidup yang kuat dalam soal (persahabatan) ini. “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang mampu memberikan petunjuk kepadaku untuk mengetahui kejelekan-kejelekanku.”

Dengan kata lain, sahabat adalah penentu dominan baik tidaknya seseorang. Seorang Muslim yang salah dalam persahabatan atau lebih luasnya pergaulan, maka ia akan sulit untuk memahami dan mangamalkan ajaran-ajaran Islam. Terlebih sekarang kita berada di zaman yang internet telah membuang batas-batas komunikasi dan informasi. Jika sampai salah pilih teman, maka itu akan sangat mengganggu kebaikan keimanan kita sendiri.

Sekedar sebagai contoh, dalam kontek media sosial, katakanlah twitterland, jika kita mem-follow akun tertentu dengan tanpa pertimbangan kebaikan iman, Islam dan ilmu, maka kita akan setiap hari dicekoki dengan tweet-tweet yang tidak akan menambah keimanan, ketakwaan dan keilmuan kita.

Dengan kata lain, dalam kontek dunia maya saja (media sosial) kita harus selektif untuk menentukan pilihan mem-follow sebuah akun.

Sebab jika tidak, cara berpikir kita akan terpengaruh dengan tweet yang diikuti baik cepat atau lambat, sadar atau pun tidak. Apalagi dalam kontek persahabatan yang lebih nyata dalam keseharian kita.

Pada lingkup ini, setiap Muslim mesti memiliki kesadaran tinggi, utamanya yang sudah memiliki anak usia remaja. Sebab, mereka sangat rentan tertarik pada segala hal yang menyenangkan mereka. Dan, ini tentu sangat tidak baik bagi masa depan mereka, terutama dalam membentuk pola pikir, sikap dan perilaku anak. Jadi, masalah sahabat, bukan masalah ringan dan biasa-biasa saja.

Ketiga, sombong. Sifat (sombong) ini sangat hina dan tercela. Dan, sifat ini adalah sifat yang ada pada diri Iblis yang terkutuk. Oleh karena itu, sebagai Muslim kita mesti mewaspadai sifat ini bersarang dalam benak kita. Apalagi, hal ini kadang kala bisa datang dengan tanpa kita sadari, terutama kala emosi memuncak atau muncul ketidakpuasan dalam diri atas suatu kejadian atau pun ketetapan yang harus dilalui.

Sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an perihal sifat Iblis. Ketika Allah perintahkan Iblis memberi sujud (penghormatan) kepada Nabi Adam Alayhissalam, Iblis malah menjawab, “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. 7: 12).

Artinya, sifat merasa diri lebih baik dari orang lain adalah wujud nyata dari kesombongan. Jika ini tidak diwaspadai, bukan saja akan berdampak buruk bagi diri kita secara fisik, tetapi juga akan menghancurkan pondasi iman yang semestinya kita pelihara dengan segenap daya. Karena sombong akan membuat manusia jauh dari kebaikan pikir dan kebijaksanaan ketetapan.

Secara naluriah, manusia baik dia beriman atau tidak akan sangat benci kepada pribadi sombong. Apalagi, Allah Ta’ala. Jadi, perkara (sombong) ini harus benar-benar diwaspadai agar ke-Islam-an kita tidak terciderai dan ternodai.

Sebab, sombong adalah hak Allah Ta’ala. “Sombong adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah selimut-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku di dalamnya, aku pasti akan menghukumnya” (HR. Abu DAwudd, Ibnu Majah & Ibn Hibban).

Dengan demikian, tiga hal dalam uraian ini sangat penting untuk menjadi perhatian utama setiap Muslim. Karena, siapa lalai, akan sangat mungkin iman dalam dirinya akan tergerus terus menerus, sementara kita masih merasa diri sebagai Muslim yang baik. Padahal, kita sudah nyata-nyata berada dalam bahaya, kehilangan kepribadian agung sebagai pribadi Muslim. Wallahu a’lam. (hidayatullah)

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang