Tak Mau Mengemis, Ia Rela Mendorong Gerobak Sampah

Sebelumnya saya memohon maaf jika tulisan ini tidak berkenan bagi banyak orang. Saya menulis kisahnya dengan niat semata-mata untuk kebaikan.

Panggil saja nama singkatnya DPS. Saya mengenalnya sejak masih Sekolah Menengah Pelajar (SMP). Selain tetangga, secara kebetulan, saya mengenal ayahnya, yang biasa menarik gerobak sampah di depan rumah.

Rupanya takdir menentukan lain. Allah Subhanahu Wata’ala memanggil sang ayah lebih awal, tepatnya tahun 2012 akibat ada kelainan tulang usai mengankat sampah.

Sepeninggal ayahnya, DPS tinggal bersama ibunya yang sudah tua, berusia 66 tahun dan saudaranya. Tepatnya di sebuah ruang berukuran kecil di sebuah gang yang sempit. Bahkan untuk menuju rumahnya harus berjalan miring saking sempitnya.

Beberapa hari lalu saya berkesempatan silaturohim ke rumahnya. Saya tak mampu menggambarkan keadaan rumahnya di tulisan sini. Namun yang membuat saya salut dan bangga pada DPS, raut wajahnya tak menampakkan kesedihan atau malu dalam mengarungi hidup yang (mungkin) berat baginya.

Semenjak ditinggal sang ayah, DPS membantu sang ibu sebagai pendorong gerobak sampah mengganti pekerjaan ayahnya dulu.

Mereka berdua menarik gerobak sampah memulai dari pukul 04.00 pagi sehabis Subuh hingga jam 08-000 WIB.

“Pagi hari habis Subuh bantu ibu, setelah itu, sehabis sekolah siang hari langsung narik gerobak, “ ujar DPS.

“Makanya masih mengenakan seragam sekolah soalnya keburu telat, “ ujar DPS dengan lugu.

DPS mengaku terpaksa harus membantu ibunya yang sudah tua agar tak bekerja sendirian.

“Kadang saya bagian narik dan di atas mobil sampah. Sementara ibu bertugas melemparkan keranjang dari bawah, “ujarnya.

Bahkan untuk membantu sang ibu menarik gerobak sampah, DPS mamsih menggunakan seragam sekolah.

Menjadi penarik gerobak diusia remaja, bahkan di saat banyak temannya sedang bersenang-senang –apalagi menggunakan baju seragam sekolah– bukanlah pekerjaan ringan. DPS beberapa kali menjajdi cemoohan orang di jalanan.

Pernah ada remaja merendahkan dirinya karena menjadi penarik gerobak sampah berseragam. Namun baginya, pekerjaan memungut sampah meski bau menyengat tidaklah haram dan juga bukan sesuatu yang memalukan.

“Yo ben, aku ora mangan melu awakmu” (Tidak apa-apa mendorong gerobak sampah, toh saya tidak makan ikut kamu, red), demikian jawab DPS menghadapi cemoohan orang.

Menurut DPS, bekerja seberat apapun tetap harus dilakukan. Jika tidak bekerja, ia dan ibunya tak bisa makan dan menyambung hidup.

“Untuk bisa tetap hidup ya bekerja. Kalau malu tak bisa makan,” ujarnya.

Baginya, menjadi penarik gerobak sampah itu lebih mulia daripada harus mengemis atau mencuri.

Ingin Kuliah dan Belikan Ibu Rumah

Untuk pekerjaan menarik gerobak DPS dan ibunya harus menerima upah Rp. 950 ribu perbulan.

“Semua dimanfaatkan ibu untuk kebutuhan hidup, “ sambung DPS.

Untuk menambah penghasilan, ia terpaksa membantu jual rokok dengan upah lima ribu rupiah perhari.

“Ya tambahan lima ribu lumayan untuk jajan dan biaya sekolah,” ujarnya. Sekedar catatan, biaya sekolah DPS perbulan sekitar Rp. 250 ribu.

“Belum lagi jika ada tambahan-tambahan biaya untuk tes menjelang ujian, “ ujar siswa kelas III di SMA Islam 1 Surakarta Jalan Brigjen Sudiarto 151 Surakarta Salatiga ini.

Ia berharap suatu hari menemukan pekerjaan lebih baik agar ia bisa membeli rumah lebih layak dan memuliakan ibunya serta bisa berkesempatan melanjutkan studi yang lebih tinggi.

“Saya ingin kuliah lagi lebih tinggi. Ingin menjadi pengajar di PGTK di sekolah Islam,” ujar gadis yang rumahnya tidak jauh dengan rumah Ketua DPRD Surakarta ini.

Usai shalat Jum’at tak mampu untuk tak berdoa padanya. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa memberi kebahagiaan, kelimpahan rizki dan keistiqomaahan dalam mengarungi hidup ini hingga khusnul khatimah.

Tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman front Pembela Islam (FPI) Kota Surakarta yang sebelumnya telah ikut membantu meringankan bebannya. Semoga bernilai pahala dan menjadikan amal shaleh dan bermanfaat untuk DPS dan keluarganya.*/Kisah nyata ini diceritakan Awod Umar dan disempurnakan oleh redaksi hidayatullah.com

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang