Penganekaragaman Merupakan Salah Satu Pilar Ketahanan Pangan

Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail membuka seminar penganekaragaman pangan non beras Tingkat Kota Depok Th. 2014, Rabu (03/12/14). Seminar yang digagas Badan Pemberdayaan Masyaraka & Keluarga (BPMK) Kota Depok mengusung tema ‘Strategi Pengembangan Pangan Lokal sebagai Upaya Penganekaragaman Konsumsi Pangan Masyarakat di Kota Depok’. Kepala BMPK Widiarti Riandini menginformasikan seminar ini diikuti oleh Camat, Lurah, UPT Pendidikan, pelaku usaha, UMKM dan KRPL Kota Depok. Masyarakat umum serta para siswa SMP dan SMA Kota Depok juga mengikuti seminar sehari ini, ujarnya.

Seminar ini bertujuan untuk mensosialisasikan dan menginformasikan kepada seluruh elemen masyarakat tentang aneka raga pangan non beras. Sebelumnya telah dilaksanakan sosialisasi langsung kepada UPT pendidikan dan siswa SMP dan SMA. Upaya penganekaragaman pangan non beras dan terigu juga telah diadakan dalam berbagai lomba. Selain seminar, ada juga pameran aneka ragam pangan non beras dan terigu dari KRPL dan UMKM Kota Depok. “Semoga seminar ini bisa meningkatkan keanekaragaman konsumsi kita yang berbahan dasar non beras dan terigu,” harap wanita yang pernah menjadi Camat Cinere. Dalam kesempatan itu, Pemimpin Depok memberikan piagam penghargaan kepada sekolah dan UPT yang telah mengikuti sosialisasi serta advokasi penganekaragaman pangan non beras dan terigu. Nur Mahmudi juga memberika bibit tanaman kepada UPT Pendidikan se-Kota Depok.

Walikota yang juga Ketua Dewan Ketahanan Pangan Kota Depok mengatakan penganekaragaman pangan merupakan salah satu dari empat pilar ketahanan pangan secara nasional. Penganekaragaman juga merupakan salah satu dari tujuh poin yang harus ada dalam sistem ketahanan pangan nasional. Ada empat kegiatan penting yang harus dilakukan dalam ketahanan pangan nasional, yaitu:

(1) Penyadaran dan Cadangan Makanan. Kita harus sadar bahwa di Depok tidak bisa menanam dan memproduksi. Karena 90% kebutuhan kita disuplai oleh orang lain. Karena itu pemberian bibit cabe dan tanaman obat keluarga (Toga) sebagai  upaya mensyukuri lahan dan iklim tropis yang kita miliki, untuk memenuhi sebagaian kebutuhan pangan kita.  “Orang Depok harus sadar dan kreatif untuk memilih pangan sehat yang berasal dari saudara kita sendiri (lokal),” ujar Nur Mahmudi.

(2) Distribusi dan Akses Makanan. Memastikan seluruh produk terdistribusi berjalan cepat, efisien, dan efektif. Akses informasi berjalan lancar dan tidak terprovokasi oleh isu kenaikan BBM.

(3) Penganekaragaman dan Keamanan Pangan. Mulailah dari diri sendiri untuk mengganti karbohidrat, jangan selalu nasi, bisa singkong, jagung, dan lain sebagainya. Aman dari bahan pengawet. Bimbinglah para pedagang agar tidak menggunakan bahan yang membahayakan konsumen.

(4) Penanggulangan Kerawanan Pangan. Ini dapat diukur dari data konsumsi. Bila kurang dari standar, berarti rawan pangan. Di Depok, suplai makanan tak masalah (cukup)dan status gizi sudah dinyatakan tidak ada yang gizi buruk. Hal tersebut menandakan bahwa di Depok tidak terjadi kerawanan pangan.

Nur Mahmudi melanjutkan, kita patut bersyukur bahwa tidak ada yang gizi buruk. Namun, kita harus masih terus berusaha mengentaskan gizi kurang yang masih ada di Depok. Gizi kurang berarti IMT dibawah 18 point. Untuk itu, para pendidik diharapkan untuk meenyarankan sarapan pagi, membawa bekal, menyediakan kantin sehat, dan membiasakan cuci tangan dengan air dan sabun kepada siswanya. “Semoga seminar ini bisa memberikan pemahaman tentang aneka jenis makanan non beras dan non terigu, yang dapat menjadi alternatif bagi kita,” harap pria kelahiran Kediri. [pkscibitung/humas pemkot depok]

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang