Meskipun Kecil di Mata Kita



Satu kali dalam sebuah pertemuan dengan seorang akhwat,kami bercakap cakap tentang amanah yang diberikan kepada kami, akhwat tersebut menyampaikan kegalauannya..

“saya sungguh ingin maksimal dalam mengemban setiap amanah yang diberikan kepada saya, tetapi apa daya ternyata saya mungkin kedepan tidak bisa maksimal dalam memegang amanah ini bu “ begitu katanya. 

Bukan karena tidak ingin dan tak mau berusaha maksimal, tentunya kalau urusan akhwat memang tidak sederhana ~ (bukan berarti urusan ikhwan lebih sederhana juga J ) ~ , seorang istri wajib mendapat ridha suami dalam setiap kegiatan yang ia kerjakan dan itu syarat mutlak untuk keberkahan kerjanya.

Sekedar ijin secara lisan tapi ketika bahasa tubuh, dan sikap harian yang tdk memotivasi, menciutkan nyali tentu saja itu merupakan ketidak ridhaan yang tersembunyi.

Saya dapat memaklumi, demikian juga dengan istri yang mendapat dukungan 100% dari suami, support dana dan do’a, namun dikarenakan keterbatasannya sebagai akhwat yg tentunya tak bebas berjalan sendiri apalagi ke tempat asing dengan orang asing, sehingga ketergantungan pada suami menjadi tinggi, harus menyesuaikan jadwal, membagi tugas rumah tangga, mengurus anak, dan pekerjaan dengan apik dan seterusnya...

Sekali lagi bukan karena mereka tidak mau dan tidak maksimal berusaha, jadi alangkah menyedihkan menurut saya ketika ada yang berkomentar bahwa mereka tidak mau bekerja karena mereka merasa dan dianggap sebagai pelengkap saja, hanya sekedar namanya tertera saja, hanya sekedar sebagai penggenap saja.

Mestinya kita lebih berempati dengan mereka, setidaknyalah memahami problemnya dan syukur syukur mencarikan solusinya, kalau problem pada suami ya bagaimana menjadikan si suami mempunyai semangat yang sama dengan si istri, meminta ijin dan memohon dukungannya, kalau karena jadwal kegiatan mungkin bisa diatur kegiatan yang bisa dikerjakan bersama dst.

Menganggap bahwa kita juga punya banyak masalah dan toh kemudian bisa diselesaikan dan dikerjakan sendiri, tentu itu takabur namanya. Karena bisa jadi di balik kesuksesan kita kelak sesungguhnya ada hasil kerja mereka yang kita lihat sangat kecil, sangat sedikit bahkan mungkin tidak berarti, karena kita tidak melihatnya hadir dalam acara-acara yang diadakan, atau tidak melaksanakan kerja seperti yang kita harapkan.

Tapi apakah kita melihat bahwa tiap malam dalam qiyamulailnya ia panjatkan do’a dengan ketulusan dan kesungguhannya untuk kemengan kita, dalam dzikirnya ia sebutkan nama kita untuk mendapat kemudahan dalam setiap urusan kita, dan dengan ketulusannya menerima prasangka kita yang tidak baik terhadapnya, serta ketaatannya pada suaminya justru itulah yang menghantar kita pada kemenangan kita..

Jadi bukankah selayaknya kita berprasangka baik pada saudara kita,karena KITA TIDAK PERNAH TAHU di mana Allah menempatkan kemenangan ini melalui  jalan siapa dan do’a siapa, sebesar apapun diri kita kita tidak pernah besar dengan sendirinya, sebagaimana badan kita yg terdiri dari sel sel yang kecil namun mereka saling bersinergi satu dengan yang lainnya.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya….untuk saudara saudaraku yang belum bisa bekerja maksimal, jangan putus asa, karena Allah tetap akan menerima do’a dari hamba-Nya yang memohon dengan tulus, semoga Allah memudahkan urusan kita semua.

Ana Chusnayatun
Caleg Perempuan PKS Kab Semarang 
Dapil 1 (Ungaran Barat-Ungaran Timur-Bergas)
https://www.facebook.com/notes/ana-chusnayatun/meskipun-kecil/758511134164138

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang