Bersikap Objektif dan Proporsional dalam Berjamaah


 

Sahabat, bagi saya, aktif dalam dakwah ibarat mengikatkan diri dalam sebuah miitsaqan ghalizhan. Tak ubahnya pernikahan, ketika kita mengadakan akad dengan dakwah ibarat akad pernikahan. Namun di atas akad tersebut, dakwah adalah miitsaaq (komitmen dan konsekwensi) yang ghaliizhan (kuat).
Namun, realitas membuktikan, ujian bagi dakwah ini tak ubahnya ujian bagi sebuah biduk rumah tangga. Kita berhadapan dengan lemahnya komitmen. Kurangnya source materi. Anak yang banyak. Godaan yang kuat. Hingga disharmoni antara aktivis dakwah. Terlebih di era internet saat ini. Hijab amni diretas dengan mudah. Apa yang dahulu tabu, sekarang dianggap lumrah. Apa yang dahulu zona merah. Sekarang diakses siapapun dan atas kepentingan apapun.

Maka yang akan terjadi adalah; kita sering termakan informasi-informasi, tidak disebut murahan, tidak juga palsu atau kebohongan. Tapi informasi yang kadar kebenaran atau kebohongan masih fifty-fifty. Atau bisa jadi benar, namun lebih disebabkan situasi dan kondisi yang kita sendiri tidak memahami. Namun apa yang akan terjadi saat kita bersikap reaktif, tidak selektif, dan tidak imunitatif?

Ibarat sang istri tadi. Hanya karena belum mendalami informasi yang ia terima. Ia lupakan kebaikan dan jasa-jasa sang suami. Ia memilih keluar. Saat keluar itulah, ia terpikat pesona di luar yang nampaknya lebih hingar bingar. Pertama ia berbinar. Namun tak lama kemudian, binar itu berubah menjadi prahara tak ubahnya pencahar.

Demikian saat kita hidup berjamaah. Boleh jadi ada kesalahan yang dilakukan para qiyadah/pemimpin/ketua atau orang-orang terdekat. Kita lupakan jasa-jasa dan kebaikan mereka. Sekali lagi, bisa jadi pelanggaran itu terjadi. Namun kita tidak memahami situasi dan kondisi apa yang menyebabkan itu terjadi. Apakah yang akan terjadi saat kita tidak bersabar dan menelan mentah-mentah informasi yang didapat dari Dumay apalagi dari tetangga yang telah nyata hasud dan dengkinya?

Ya. Kita keluar! Mengumbar aib. Curhat ke sana ke mari. Luka hati kita semakin parah. Awalnya hanya lecet. Namun saat disiram air cuka komentar-komentar, luka kita makin parah. Kita harus rela kehilangan organ tubuh vital dan lebih penting imunitas kita; Hati dan ukhuwwah!

Kita terus terusik untuk mengumbar aib anggota dewan yang kepergok membuka situs porno, padahal pelaku sudah lama bertaubat! Kita terus mengumbar aib pemecatan ustadz ternama, padahal kita tak paham latarbelakang pemecatan. Kita terus membahas masalah informasi suap daging sapi, padahal kita pun tak paham sejauhmana suap itu? Kasusnya masih disidangkan. Orangnya sudah dipenjara kendati belum ada vonis. Karena ukhuwwah dan imunitas kita telah teramputasi, ujung-ujungnya kita pun terjerembab kepada kezhaliman di atas kezhaliman.

Tengoklah saudara-saudara kita yang telah memutuskan keluar. Apakah lebih efektif dan lebih baik? Tidak! Saat keluar, ia mendapatkan brondong yang ternyata lebih parah dan tak lama lagi akan mencampakkannya. Brondong yang hanya memanfaatkan situasi untuk hasrat dan syahwatnya belaka. Saya pastikan, bersabar dalam menasihati suami sah yang bersalah, jauh lebih mulia daripada dipeluk dekapan brondong yang baru kita kenal. Lebih parah lagi. Bukannya setelah bercerai melupakan kenangan bersama mantan suami. Justru kebanyakan adalah, mengumbar keburukan dan aib di masa lalu. Lebih parah lagi. Aib dan keburukan itu ia umbar di media sosial atas nama nasihat.

Maka bagi saya, bersikap objektif dan proporsional adalah hal mutlak dalam berjamaah. Tidak membenarkan semua. Tidak menganggap bohong semua. Kita diperintahkan sabar dan mushabarah. Terus ribath dan mengencangkan ketakwaan. Karena inti dari pernikahan dengan dakwah ini adalah mencari pahala dan membina generasi. Jangan sampai karena perilaku kita, generasi masa depan tidak lagi memiliki harapan. ***
nandangburhanudin
pkspiyungan.org

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates | ReDesign by PKS Kab.Semarang